"Bahasa Jawa khususnya sastra Jawa belum mati bung." Meskipun
studi dan peminat Sastra Jawa semakin sepi setiap tahunnya, toh Sastra
Jawa tetap eksis di belantara jagad sastra. Minoritas bukan berarti
mati. Namun tentu saja butuh perjuangan keras agar tetap eksis. Sekedar
eksis tentu sudah sangat bagus dibanding benar-benar mati. Tetap saja
akan lebih membanggakan jika status eksis bisa meningkat menjadi
populer. Mungkinkah? Jawabannya, tak ada yang tak mungkin di dunia ini.
Melihat perkembangan bahasa Jawa sekarang ini, khususnya sastra
Jawa ibarat mati suri atau lebih parah mungkin koma, sekarat. Dikatakan
mati belum, namun hidup pun juga sepertinya enggan. Ada akibat tentu ada
sebab. Nah merunut berbagai sejarah perkembangan sastra Jawa di
Indonesia, paling tidak ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan
fenomena lesunya sastra Jawa. Diantaranya adalah :
1. Semakin langkanya produk sastra Jawa dan penulis sastra Jawa
2. Derasnya arus budaya (pop) global.
3. Arogansi (Kekakuan) paradigma satra Jawa beserta semua lembaga-lembaganya.
langsung mawon njeh, sederek nek pingen mrisani kamus utawi kata-kata kagem bahasa jawa langsung mawon mrisani teng alamat niki
http://seputarafitta.wordpress.com/2010/06/23/kawruh-basa/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar