Bertaqwalah
kepada Allah SWT, taqwa dalam arti memilihara diri dari segala bentuk
kemusyirakan dan kemunafikan yakni dengan mentaati dan mengerjakan semua
perintah Allah serta meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Juga
taqwa yang dapat menumbuhkan amal-amal shaleh yang nyata sebagai perbuatan dan
amal manusia, baik atau jahatnya adalah merupakan pencerminan imannya terhadap
Allah SWT.
Rasulullah
SAW bersabda:
ليأتى
على الناس زمان تخلق سنتى فيه كما يخلق الثوب على الابدان وتحدث البدعة فمن اتبع
سنتى يومئذ صار غريبا وبقي وحيدا ومن اتبع بدعة الناس وحد خمسين صاحبا او اكثر
فقالوا: يا رسول الله هل بعدنا احد افضل منا؟ قال بلى قالوا فيرونك يارسول الله؟ قال لا, قالوا: هل
تينزل عليهم الوحي قال لا, قالوا: كيف يكونون فيه قال كا لملح فى الماء يذوب
قلوبهم كما يذوب الملح فى الماء, قالوا: كيف يعيشون فى ذلك الزمان قال كالدود فى
الخل قالوا: كيف يحفظون دينهم قال كا لجمر فى البدان وضعه طفئ وان امسكه وعصره
اخرق اليد.
Artinya : “Pasti
akan datang manusia suatu masa dimana sunnahku pada waktu itu menjadi rusak
bagaikan rusaknya pakaian pada badan, dan timbullah bid’ah. Barang siapa
mengikuti sunnahku pada waktu itu, maka jadilah ia asing (aneh) dan menjadi
sendirian. Dan barang siapa mengikuti bid’ah (kemodelan) manusia, maka dia akan
mendapatkan lima puluh kawan bahkan lebih banyak”. Mereka (para sahabat)
berkata: “apakah sesudah kami ini nanti ada yang lebih utama dari pada kami?”.
Beliau bersabda: “Ya, ada”. Mereka bertanya lagi: “Apakah mereka masih melihat
Engkau: wahai Rasulullah SAW?”. Beliau bersabda: “Tidak!”. Mereka bertanya:
“Apakah masih turun wahyu kepada merek?”. Beliau bersabda: “Tidak”. Mereka
berkata: “Bagaimana keadaan mereka pada waktu itu”. Beliau bersabda: “Seperti garam
di dalam air. Hati mereka melelh seperti melelehnya garam di dalam air”. Mereka
bertanya bagaimana hidup mereka pada zaman itu?”. Beliau bersabda: “Seperti
ulat di dalam cuka”. Mereka bertanya: “Bagaimana mereka menjaga agama mereka?”.
Beliau bersabda: “Seperti bara di dalam tangan, apabila dia meletakkannya, bara
itu akan mati. Dan apabila dia tetap memegangnya serta mengenggamnya, pasti
membakar tangan”.
Hadits
di atas secara gamblang memberi pengertian kepada kita bahwa dimasa-masa
mendatang sunnah menjadi rusak, ditinggalkan dan diabaikan oleh setiap orang,
kemudian timbullah bid’ah sebagaimana yang telah kita ketahui adalah suatu
kemodelan yang mengada-ada, yang pada zaman Rasulullah SAW tidak atau belum
ada.
Dalam
bidang kemasyarakatan yang menyangkut kehidupan duniawi bid’ah boleh dilakukan
selama tidak bertentangan dengan syari’at agama Islam. Pada zaman Rasulullah
SAW orang bepergian dengan menumpang onta atau kuda. Sekarang orang telah
membuat kemodelan sebagai pengganti onta yaitu naik mobil, kapal terbang dan
lain sebagainya. Bid’ah ini boleh dilakukan. Tetapi amaliah yang berkaitan
dengan ibadah, maka menambah-nambah aturan yang mengada-ada sama sekali tidak
diperbolehkan. Misalnya menambah bilangan rakaat shalat maghrib atau subuh
dengan maksud agar mendapat pahala yang banyak, mengganti bacaan surat
al-fatihah dalam shalat degan bahasa lain agar lebih bisa memahami artinya dan
lain sebagainya. Semua ini adalah bid’ah yang dilarang agama Islam.
Agama
Islam akan menjadi rusak apabila para pemeluknya sudah meninggalkan, mengurangi
atau menambah-nambah sunnah Rasulullah SAW. Dan hal ini pasti akan terjadi
sebagai isyarat Nabi mengingatkan jarak yang begitu lama antara zaman kenabian
hingga sekarang. Masa tenggang yang lama sekitar 13 abad ini membawa akibat
semakin jauhnya umat manusia dari ajaran yang murni, yang telah digariskan oleh
Rasulullah SAW. Belum lagi pengaruh-pengaruh luar yang datang bertubi-tubi
megakibatkan umat Islam semakin akur dari ajaran Nabi.
Bahkan
dari sekelompok golongan ada yang mengandalkan akal dari pada wahyu ilahi yang
termaktub dalam Al-Qur'an dan al-hadits. Bilamana ada ajaran Islam yang kiranya
tidak cocok dengan akal, lalu diganti dengan cara yang sesuai dengan akal.
Najis mughalladhah misalnya, yang cara membasuhnya harus tujuh kali basuhan
dengan sebagian basuhan itu ada yang harus dicampur dengan debu. Tetapi
ketentuan itu lalu diubah sesuai dengan kemajuan sekarang yang lebih cocok dengan
ilmu kesehatan yaitu sabun sebagai ganti debu.
Lalu
masalah perkawinan juga mulai bergeser menuju semen leven (hidup bersama
tanpa ikatan perkawinan) karena ini dianggap lebih cocok dengan kodrat
manusia yang bebas. Banyak juga manusia yang tidak percata perkara gaib seperti
kebangkitan manusia yang telah mati, mayatnya yang telah bercampur dengan tanah
bisa bangkit kembali. Suatu hal yang mustahil, yang tak dapat diterima oleh
akal. Dan masih banyak ajaran-ajaran Islam yang mulai bergeser dari ajaran aslinya.
Orang
semakin lupa bahwa agama Islam adalah agama samawi, agama yang semata-mata
bersumber dari wahyu ilahi. Bukan agama budaya yang dibuat-buat menurut kemauan
nalar dan pemikiran manusia. Oleh sebab itu segalanya harus kembali kepada
sunnah rasul. Maka sebelum Rasulullah SAW wafat beliau telah bersabda:
تركت
فيكم امرين ما ان تمسكتم بهما لن تضلوا ابدا كتاب الله وسنة رسوله.
Artinya : “Aku
tinggalkan untuk kalian dua perkara (pusaka), tidaklah kalian tersesat
selama-lamanya, selama kalian masih memegang keduanya, yaitu Kitabulah dan
Sunnah Rasul-Nya”.
Rasulullah SAW yang diutus kebumi
ini sebagai rahmatan lil‘alamin tentu sangat khawatir jika umatnya kelak
terjerumus kedalam kesesatan, tenggelam didalam perbuatan bid’ah, khurafat dan
berbagai penyimpangan-penyimpangan. Sehingga sebelum beliau wafat, dengan nada
yang amat keras seperti orang marah, beliau pernah berkhutbah yang artinya
sebagai berikut: “ adapun kemudian, maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan
adalah kitabullah ( Al-Qur'an) daan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad SAW . dan sesungguhnya sejahat-jahat pekerjaan adalah bid’ah dan
setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu berada di neraka”. (
HR. Muslim, Ibnu Majas dan lain-lain ).
Bagaimana keadaan manusia di saat
sunnah Rasul telah rusak. Adakah manusia yang masih teguh memegang sunnah ?
ataukah semua orang ikut latah mengobral bid’ah ?
Seperti halnya yang telah diseratkan
oleh Rasulullah SAW ; maka keadaan manusia pada waktu itu amatlah sulit dan
kacau. Mereka terbagi menjadi dua golongan, golongan yang sudah meninggalkan
sunnah Rasul dan golongan yang masih memegang dan menjaganya.
Golongan yang pertama adalah
orang-orang yang tipis imannya, mudah terpengaruh oleh suasana dan keadaan.
Keyakinan mereka mudah luntur semudah garam yang meleleh dalam air. Karena itu
mereka tidak punya pegangan yang pasti kecuali hanya mengikuti segala yang
berlaku pada waktu itu. Mereka ikuti segala macam bid’ah atau
kemodelan-kemodelan yang memang lebih enak, mudah dan mengikuti zaman daripada
mengikuti sunnah Rosul yang berat dan banyak meninggkat. Sehingga keadaan
mereka sudah tidak karuan lagi, ibarat ulat didalam cuka. Malang melntang
seenaknnya sendiri, bergerak bebas tanpa aturan memenuhi hasrat dan selera hati
yang diingini.
Dan yang lebih enak lagi justru
folongan inilah yang mendapat teman dan pengikut serta mendapat sambutan
masyarakat. Mereka dianggap sebagai golongan modern yang patut ditiru. Berbagai
sanjungan datang bertubi-tubi dilontarkan kepada mereka. Merekalah kaum
pembaharu, kaum reformasi yang tidak kolot dan tidak kampungan. Dan masih
banyak lagi sanjungan yang muluk-muluk, yang mengakibatkan orang semakin lebih
bangga dan lupa daratan.
Golongan kedua adalah orang-orang
yang kuat imannya, tidak bergeming oleh pengaruh modern yang sesat. Mereka
tetap teguh memegang sunnah Rosulmeskipun banyak rintangan dan halangan.
Kedudukan mereka sangat terjepit, tidak banyak teman bahkan dijauhi dan
dibenci. Mereka dalam posisi yang serba sulit, ibarat orang ang sedang
menggenggam bara api. Bila bara itu tetep dipegang, tangan akan terbakar.
Tetapi kalau dilepaskan, maka bara itu pasti mati. Bara itulah merupakan tamsil
dari agama dan sunnah Rasul yang mereka jaga.
Golongan kedua ini tidak banyak, Cuma
beberapa orang yang dapat dihitung dengan deriji. Yaitu orang-orang yang masih
kuat imannya, yang selalu mengutamakan kebenaran berdasarkan petunjuk Allah dan
Rasul-Nya.
Begitulah keadaan manusia dizaman
akhir. Mereka yang lupa semakin sesat. Sedang mereka yang tetap teguh memegang
ajaran Rasulullah SAW , dianggap aneh dan diasingkan. Meskipun begitu bagi
orang-orang yang mengharapkan kebahagiaan abadi di akhirat, rintangan yang
bagaimanapun beratnya bukan menjadi persoalan. Karena memang itulah risiko
orang-orang yang menjalankan kebaikan.
Orang-orang yang tetap berpegang
teguh kepada sunnah Rasul disaat orang sudah lupa daratan amat besar pahalanya.
Rasulullah SAW telah bersabda:
من
تمسك بسنتى عند فساد امتى, فله اجر مائة شهيد.
Artinya
: “
Barang siapa berpegang dengan sunnahku ketika umatku dalam kerusakan, maka
baginya akan mendpat pahala seratus orang mati syahid.”
Semoga
kita sekalian ini termasuk orang-orang yang selalu teguh memegang sunnah Rasul,
ditengah-tengah gelombang bid’ah yang semakin menjala.
Artinya
: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman mengerjakan
amal shaleh dan nasehat supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran. ( QS. Al-Ashr : 1-3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar