Jumat, 13 September 2013

AKAN TERJADI SUNNAH RASULULLAH SAW MENJADI RUSAK


Bertaqwalah kepada Allah SWT, taqwa dalam arti memilihara diri dari segala bentuk kemusyirakan dan kemunafikan yakni dengan mentaati dan mengerjakan semua perintah Allah serta meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Juga taqwa yang dapat menumbuhkan amal-amal shaleh yang nyata sebagai perbuatan dan amal manusia, baik atau jahatnya adalah merupakan pencerminan imannya terhadap Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
ليأتى على الناس زمان تخلق سنتى فيه كما يخلق الثوب على الابدان وتحدث البدعة فمن اتبع سنتى يومئذ صار غريبا وبقي وحيدا ومن اتبع بدعة الناس وحد خمسين صاحبا او اكثر فقالوا: يا رسول الله هل بعدنا احد افضل منا؟ قال بلى  قالوا فيرونك يارسول الله؟ قال لا, قالوا: هل تينزل عليهم الوحي قال لا, قالوا: كيف يكونون فيه قال كا لملح فى الماء يذوب قلوبهم كما يذوب الملح فى الماء, قالوا: كيف يعيشون فى ذلك الزمان قال كالدود فى الخل قالوا: كيف يحفظون دينهم قال كا لجمر فى البدان وضعه طفئ وان امسكه وعصره اخرق اليد.
Artinya  : “Pasti akan datang manusia suatu masa dimana sunnahku pada waktu itu menjadi rusak bagaikan rusaknya pakaian pada badan, dan timbullah bid’ah. Barang siapa mengikuti sunnahku pada waktu itu, maka jadilah ia asing (aneh) dan menjadi sendirian. Dan barang siapa mengikuti bid’ah (kemodelan) manusia, maka dia akan mendapatkan lima puluh kawan bahkan lebih banyak”. Mereka (para sahabat) berkata: “apakah sesudah kami ini nanti ada yang lebih utama dari pada kami?”. Beliau bersabda: “Ya, ada”. Mereka bertanya lagi: “Apakah mereka masih melihat Engkau: wahai Rasulullah SAW?”. Beliau bersabda: “Tidak!”. Mereka bertanya: “Apakah masih turun wahyu kepada merek?”. Beliau bersabda: “Tidak”. Mereka berkata: “Bagaimana keadaan mereka pada waktu itu”. Beliau bersabda: “Seperti garam di dalam air. Hati mereka melelh seperti melelehnya garam di dalam air”. Mereka bertanya bagaimana hidup mereka pada zaman itu?”. Beliau bersabda: “Seperti ulat di dalam cuka”. Mereka bertanya: “Bagaimana mereka menjaga agama mereka?”. Beliau bersabda: “Seperti bara di dalam tangan, apabila dia meletakkannya, bara itu akan mati. Dan apabila dia tetap memegangnya serta mengenggamnya, pasti membakar tangan”.

Hadits di atas secara gamblang memberi pengertian kepada kita bahwa dimasa-masa mendatang sunnah menjadi rusak, ditinggalkan dan diabaikan oleh setiap orang, kemudian timbullah bid’ah sebagaimana yang telah kita ketahui adalah suatu kemodelan yang mengada-ada, yang pada zaman Rasulullah SAW tidak atau belum ada.
Dalam bidang kemasyarakatan yang menyangkut kehidupan duniawi bid’ah boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan syari’at agama Islam. Pada zaman Rasulullah SAW orang bepergian dengan menumpang onta atau kuda. Sekarang orang telah membuat kemodelan sebagai pengganti onta yaitu naik mobil, kapal terbang dan lain sebagainya. Bid’ah ini boleh dilakukan. Tetapi amaliah yang berkaitan dengan ibadah, maka menambah-nambah aturan yang mengada-ada sama sekali tidak diperbolehkan. Misalnya menambah bilangan rakaat shalat maghrib atau subuh dengan maksud agar mendapat pahala yang banyak, mengganti bacaan surat al-fatihah dalam shalat degan bahasa lain agar lebih bisa memahami artinya dan lain sebagainya. Semua ini adalah bid’ah yang dilarang agama Islam.

Agama Islam akan menjadi rusak apabila para pemeluknya sudah meninggalkan, mengurangi atau menambah-nambah sunnah Rasulullah SAW. Dan hal ini pasti akan terjadi sebagai isyarat Nabi mengingatkan jarak yang begitu lama antara zaman kenabian hingga sekarang. Masa tenggang yang lama sekitar 13 abad ini membawa akibat semakin jauhnya umat manusia dari ajaran yang murni, yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW. Belum lagi pengaruh-pengaruh luar yang datang bertubi-tubi megakibatkan umat Islam semakin akur dari ajaran Nabi.
Bahkan dari sekelompok golongan ada yang mengandalkan akal dari pada wahyu ilahi yang termaktub dalam Al-Qur'an dan al-hadits. Bilamana ada ajaran Islam yang kiranya tidak cocok dengan akal, lalu diganti dengan cara yang sesuai dengan akal. Najis mughalladhah misalnya, yang cara membasuhnya harus tujuh kali basuhan dengan sebagian basuhan itu ada yang harus dicampur dengan debu. Tetapi ketentuan itu lalu diubah sesuai dengan kemajuan sekarang yang lebih cocok dengan ilmu kesehatan yaitu sabun sebagai ganti debu.
Lalu masalah perkawinan juga mulai bergeser menuju semen leven (hidup bersama tanpa ikatan perkawinan) karena ini dianggap lebih cocok dengan kodrat manusia yang bebas. Banyak juga manusia yang tidak percata perkara gaib seperti kebangkitan manusia yang telah mati, mayatnya yang telah bercampur dengan tanah bisa bangkit kembali. Suatu hal yang mustahil, yang tak dapat diterima oleh akal. Dan masih banyak ajaran-ajaran Islam yang mulai bergeser dari ajaran aslinya.
Orang semakin lupa bahwa agama Islam adalah agama samawi, agama yang semata-mata bersumber dari wahyu ilahi. Bukan agama budaya yang dibuat-buat menurut kemauan nalar dan pemikiran manusia. Oleh sebab itu segalanya harus kembali kepada sunnah rasul. Maka sebelum Rasulullah SAW wafat beliau telah bersabda:

تركت فيكم امرين ما ان تمسكتم بهما لن تضلوا ابدا كتاب الله وسنة رسوله.
Artinya  : “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara (pusaka), tidaklah kalian tersesat selama-lamanya, selama kalian masih memegang keduanya, yaitu Kitabulah dan Sunnah Rasul-Nya”.

            Rasulullah SAW yang diutus kebumi ini sebagai rahmatan lil‘alamin tentu sangat khawatir jika umatnya kelak terjerumus kedalam kesesatan, tenggelam didalam perbuatan bid’ah, khurafat dan berbagai penyimpangan-penyimpangan. Sehingga sebelum beliau wafat, dengan nada yang amat keras seperti orang marah, beliau pernah berkhutbah yang artinya sebagai berikut: “ adapun kemudian, maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah ( Al-Qur'an) daan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW . dan sesungguhnya sejahat-jahat pekerjaan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu berada di neraka”. ( HR. Muslim, Ibnu Majas dan lain-lain ).
            Bagaimana keadaan manusia di saat sunnah Rasul telah rusak. Adakah manusia yang masih teguh memegang sunnah ? ataukah semua orang ikut latah mengobral bid’ah ?
            Seperti halnya yang telah diseratkan oleh Rasulullah SAW ; maka keadaan manusia pada waktu itu amatlah sulit dan kacau. Mereka terbagi menjadi dua golongan, golongan yang sudah meninggalkan sunnah Rasul dan golongan yang masih memegang dan menjaganya.
            Golongan yang pertama adalah orang-orang yang tipis imannya, mudah terpengaruh oleh suasana dan keadaan. Keyakinan mereka mudah luntur semudah garam yang meleleh dalam air. Karena itu mereka tidak punya pegangan yang pasti kecuali hanya mengikuti segala yang berlaku pada waktu itu. Mereka ikuti segala macam bid’ah atau kemodelan-kemodelan yang memang lebih enak, mudah dan mengikuti zaman daripada mengikuti sunnah Rosul yang berat dan banyak meninggkat. Sehingga keadaan mereka sudah tidak karuan lagi, ibarat ulat didalam cuka. Malang melntang seenaknnya sendiri, bergerak bebas tanpa aturan memenuhi hasrat dan selera hati yang diingini.
            Dan yang lebih enak lagi justru folongan inilah yang mendapat teman dan pengikut serta mendapat sambutan masyarakat. Mereka dianggap sebagai golongan modern yang patut ditiru. Berbagai sanjungan datang bertubi-tubi dilontarkan kepada mereka. Merekalah kaum pembaharu, kaum reformasi yang tidak kolot dan tidak kampungan. Dan masih banyak lagi sanjungan yang muluk-muluk, yang mengakibatkan orang semakin lebih bangga dan lupa daratan.
            Golongan kedua adalah orang-orang yang kuat imannya, tidak bergeming oleh pengaruh modern yang sesat. Mereka tetap teguh memegang sunnah Rosulmeskipun banyak rintangan dan halangan. Kedudukan mereka sangat terjepit, tidak banyak teman bahkan dijauhi dan dibenci. Mereka dalam posisi yang serba sulit, ibarat orang ang sedang menggenggam bara api. Bila bara itu tetep dipegang, tangan akan terbakar. Tetapi kalau dilepaskan, maka bara itu pasti mati. Bara itulah merupakan tamsil dari agama dan sunnah Rasul yang mereka jaga.
            Golongan kedua ini tidak banyak, Cuma beberapa orang yang dapat dihitung dengan deriji. Yaitu orang-orang yang masih kuat imannya, yang selalu mengutamakan kebenaran berdasarkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
            Begitulah keadaan manusia dizaman akhir. Mereka yang lupa semakin sesat. Sedang mereka yang tetap teguh memegang ajaran Rasulullah SAW , dianggap aneh dan diasingkan. Meskipun begitu bagi orang-orang yang mengharapkan kebahagiaan abadi di akhirat, rintangan yang bagaimanapun beratnya bukan menjadi persoalan. Karena memang itulah risiko orang-orang yang menjalankan kebaikan.
            Orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada sunnah Rasul disaat orang sudah lupa daratan amat besar pahalanya.
            Rasulullah SAW telah bersabda:
من تمسك بسنتى عند فساد امتى, فله اجر مائة شهيد.
Artinya :         “ Barang siapa berpegang dengan sunnahku ketika umatku dalam kerusakan, maka baginya akan mendpat pahala seratus orang mati syahid.”

Semoga kita sekalian ini termasuk orang-orang yang selalu teguh memegang sunnah Rasul, ditengah-tengah gelombang bid’ah yang semakin menjala.


Artinya :  “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman mengerjakan amal shaleh dan nasehat supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. ( QS. Al-Ashr : 1-3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar