Senin, 16 September 2013

AKHLAQ YANG JAHAT TANDA IMAN YANG LEMAH


Bertaqwalah kalian kepada Allah SWT yakni melaksanakan perintah-perintah Allah serta meninggalkan semua larangan-Nya.
Juga taqwa yang dapat menimbulkan nilai-nilai akhlaq yang terpuji sebagai penghias amal perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.
Kuat atau lemahnya iman seseorang dapat diukur dan diketahui dari perilaku akhlaqnya. Karena iman yang kuat mewujudkan akhlaq yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah mewujudkan akhlak yang jahat dan buruk laku, mudah terkilir pada perbuatan keji yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Allah SWT dalam firmannya yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an banyak menyeru manusia untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat, sebagai tuntunan iman dan taqwa kepada-Nya.
Allah berfirman:



Artinya : “hai orang-orang ynag beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah : 119)

            Dan perhatikan pula sabda Nabi Muhammad SAW dalam menilai keadaan orang yang lemah imannya, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku buruk dan jahat, diantaranya digambarkan oleh Nabi, orang yang tidak punya rasa malu dalam melakukan perbuatan keji dan hina, dan yang suka mengganggu tetangganya.
Rasulullah SAW bersabda :
الحياء والايمان قرنا جميعا فاذا رفع احد هما رفع الاخر. رواه الحاكم والبرانى
Artinya :  “Rasa malu dan iman itu sebenarnya terpadu menjadi satu maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain.

Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda :
الحياء شعبة من الايمان (متفق عليه)
Artinya :  “malu adalah sebagian dari iman”. ( Muttafaq ‘alaih).

Lebih jauh apabila direnungkan hadits yang kami kemukakan tadi nyatalah bahwa rasa malu sangat berpautan dengan imam hingga boleh dikatakan tiap-tiap orang yang beriman pastilah ia seorang pemalu dan tiap-tiap irang yang tidak malu tidak ada iman di dalam jiwanya walaupun lidahnya mengatakan aku telah beriman.
Rasa malu itu, kalau ia ketinggalan dari pada teman-temannya pengalaman dan pengetahuannya, kalau ia tidak dapat berusaha untuk mencari nafkah yang halal dan bekerja yang layak menurut pandangan umum dan kalau ia ketinggalan dalam segala pekerjaan kebijakan menurut agama.
Rasa malu itu sangat luasnya dan sukar diterangkan satu persatu. Demikianlah sesuai dengan hadits Nabi Muhammaf SAW:
والله لايؤمن, والله لايؤمن, قيل: من يا رسول الله؟ قال الذى لايأمن جاره بوائقه. (رواه البخارى)
Artinya  : “Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Seorang hamba bertanya: “Siapa dia ya Rasulullah?”. Jawab Nabi SAW. “Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya”. (HR. Bukhori)

Dalam mengajar para shahabat, Rasulullah SAW. Senantiasa menghindari dari perkataan yang tidak ada gunanya, yang bisa menggelincirkan manusia ke lembah pembicaraan ngawur, yang Rasulullah SAW bersabda:
فمن كان يؤمن با لله واليوم الاخر فلايؤذجاره, ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا اوليصمت (رواه البخارى و مسلم)
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik, (kalau tidak dapat) hendaklah diam saja. (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits diatas memberikan penegasan pentingnya berbuat baik dengan tetangga, juga memberikan pengertian bahwasannya Islam sangat menekankan kerukunan antara tetangga, karena yang demikian sebagai ciri orang yang beriman.
Sebab suatu knyatan bahwa manusia hidup tidak dapat berdiri sendiri dan sangat memerlukan hubungan sesamanya dalam menghadapi tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari.
Di dalam hubungan dnegan sesamanya, maka tetanggalah saudara terdkat yang lebih mudah didekati. Oleh sebab itu Rasulullah SAW memberikan batas pengertian tetangga, sabdanya yang artinya: “Tetangga ialah empat puluh rumah ke kanan, empat puluh rumah ke kiri, empat puluh rumah ke depan, dan empat puluh rumah ke belakang.
Itulah yang dianggap tetangga dekat kita, itulah saudara terdekat ita.
Setelah mengetahui batas-batas tetangga, maka kita pun hendaknya mematuhi hak dan kewajiban bertetangga, karena Islam telah memberikan tuntunannya.
Hak dan kewajiban dalam bertetangga yang pada dasarnya merupakan etiket hubungan sesama mereka banyak sekali meliputi kepentingan-kepentingan hidup, baik yang bersifat pribadi maupun secara bergotong royong dilakukan orang banyak.
Kita hendaknya berusaha memudahkan kesulita mereka dengan memberikan pertolongan, karena kita yakn bahwa Allah akan membalas dengan kemudahan pula, sebagaimana sabda Nabi SAW:
من نفس عن مؤمن قربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من طرب يوم القيامة رواه مسلم
Artinya: “Barangsiapa memudahkan kesulitan saudaranya niscaya Allah akan memudahkan jalannya ke surga”. (HR. Muslim)

Lebih dari itu sangat dicela oleh Islam kalau seorang muslim tidak mau memberikan pertolongan kepada tetangganya, sehingga digambarkan oleh Nabi SAW sebagai berikut:
ما امن رجل بات شبعان وجاره جائع الى جانبه وهو يعلم رواه البخارى
Artinya: “Tidaklah beriman dengan baik kepadaku orang yang bermalam dengan perut kenyang, padahal tetangganya berbaring dalam keadaan lapar, sedang ia mengetahui keadaan tetangganya itu”. (HR. Al-Bazar)

Dalam membina iman yang benar dan sempurna, Rasulullah SAW terus-menerus menanamkan akhlak yang luhur, agar ummatnya terpelihara dari perbuatan mungkar yang dimurkai Allah. Namun demikian masih ada sementara orang yang beragama yang meremehkan perbuatan ibadah yang diwajibkan.
Memang kadang-kadang diantara mereka menunjukkan sikap ang baik di muka umum dan bicaranya cukup lantang ingin menegakkannya, tetapi dibalik itu mereka tidak segan-segan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan akhlaq yang mulia.
Pentingnya hubungan akhlaq dengan iman dan hubungan iman dengan ibadah yang benar. Nabi Muhammad SAW menambahkan dengan menjadikan iman sebagai dasar segala kebaikan dan kebenaran di dunia serta keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
Demikian juga masalah akhlaq tidak kalah pentingnya, bahkan lebih penting dari itu. Oleh karenanya dalam pembinaan harus mendapat petunjuk serta nasehat yang terus-menerus agar dapat meresap dalam hati dan melekat dalam ingatan hingga menjadi keyakinannya, bahwa iman, kebaikan dan akhlaq adalah unsur-unsur yang erat kaitannya, tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.
اعذ با لله من الشيطن الرجيم, يا ايها الذين امنوا عليكم انفسكم لا يضركم من ضل اذا اهتديتم الى الله مرجعكم جميعا فينبئكم تعملون.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Perhatikan diri kalian! Tidak usah mengurusi orang lain! Seandainya orang lain bertindak kasar, maka tindakannya itu tidak akan merugikan diri kalian, asal kalian mau mengambil petunjuk Allah. Kalian pasti akan menghadap kepengadilan Allah, dimana Allah bakal membeberkan kepada kalian tentang apa yang sudah kalian perbuat di dunia ini".


Tidak ada komentar:

Posting Komentar