Selasa, 17 September 2013

Akhlaq yang jahat tanda iman yang lemah


Bertaqwalah kalian kepada Allah yakni melaksanakan perintah-perintah Allah serta meninggalkan semua larangan-Nya. Juga bertaqwa yang dapat menimbulkan nilai-nilai Akhlaq yang terpuji sebagai penghias amal perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.
Kuat atau lemahnya iman seseorang dapat diukur dan diketahui dari perilaku akhlaqnya. Karena iman yang kuat mewujudkan akhlaq yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah mewujudkan akhlaq yang jahat dan buruk laku, mudah terkilir pada perbuatan keji yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Allah dalam firman-Nya yang termaktub dalam kitab suci al-qur’an banyak menyeru manusia untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat, sebagai tuntunan iman dan taqwa kepada-Nya.
Allah berfirman:


Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. At-Taubah: 119)

Dan perhatikan pula sabda Nabi Muhammad SAW dalam menilai keadaan orang yang lemah imannya, yang diwujudkan dalam bentuk periaku buruk dan  jahat, diantaranya digambarkan oleh Nabi, orang yang tidak punya rasa malu dalam melakukan perbuatan kehi dan hina, dan yang suka mengganggu tetangganya.
Rasulullah SAW bersabda:
الحياء والايمان قرنا جميعا فاذا رفع احد هما رفع الاخر. رواه الحاكم والبرانى
Artinya: “Rasa malu dan iman itu sebenarnya terpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain”.
Dalam Hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
الحياء شعبة من الايمان (متفق عليه)
Artinya: “Malu adalah sebagian dari pada iman”. (Muttafaq ‘alaih)
Lebih jauh apabila direnungkan hadits yang kami kemukakan tadi nyatalah bahwa rasa malu sangat berpautan dengan iman hingga boleh dikatakan tiap-tiap orang yang beriman pastilah ia seorang pemalu dan tiap-tiap orang yang tidak malu tidak ada iman di dalam jiwanya walaupun lidahnya mengatakan aku telah beriman.
Rasa malu itu, kalau ia ketinggalan dari pada teman-temannya pengalaman dan pengetahuannya, kalau tidak dapa berusaha untuk mencari nafkah yang halal dan bekerja yang layak menurut pandangan umum dan kalau ia ketinggalan dalam segala pekerjaan kebajikan menurut agama.
Rasa malu itu sangat luasnya dan sukar diterangkan satu persatu. Demikian sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW:
والله لايؤمن, والله لايؤمن, قيل: من يا رسول الله؟ قال الذى لايأمن جاره بوائقه. (رواه البخارى)
Artinya: “Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Seorang hamba bertanya: “Siapa dia ya Rasulullah SAW?”. Jawab Nabi. “Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya”. (HR. Bukrari).
Dalam mengajar para shahabat, Rasulullah SAW senantiasa menghindari dari perkataan yang tidak ada gunanya, yang bias menggelincirkan manusia ke lembah pembicaraan ngawur, yang Rasulullah SAW bersabda;
فمن كان يؤمن با لله واليوم الاخر فلايؤذجاره, ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا اوليصمت (رواه البخارى و مسلم)
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhri, hendaklah berbicara yang baik, (kalau tidak dapat) hendaklah diam saja”. (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas memberikan penegasan pentingnya berbuat baik dengan tetangga, juga memberikan pengertian bahwasannya Islam sangat menekankan kerukunan antara tetangga, karena yang demikian sebagai ciri orang yang beriman.
Keterangan di atas itulah yang mengharuskan setiap pribadi muslim mempunyai kesadaran terhadap kemampuannya yang sangat terbatas. Sebab suatu kenyataan bahwa manusia hidup tidak dapat berdiri sendiri dan sangat memerlukan hubungan sesamanya dalam menghadapi tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari.
Di dalam hubungan dengan sesamanya, maka tetanggalah saudara terdekat yang lebih mudah didekati. Oleh sebab itu Rasulullah SAW memberikan batas pengertian tetangga, sebagaimana sabdanya yang artinya:

“Tetangga ialah empat puluh rumah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar