Marilah kita tingkatkan
iman dan takwa kepada Allah SWT melalui peningkatan etos kerja yang
sebaik-baiknya, sesuai firman Allah SWT:
Artinya : “Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)
Dalam
upaya meningkatkan kualitas sumber daya umat, Rasulullah terlebih dahulu
menanamkan akidah, lalu Beliau memacu etos kerja dan menegakkan disiplin kepada
para sahabat dan senantiasa mengajarkan sikap berani hidup mandiri di kalangan
mereka, seperti dibuktikan oleh sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin
Auf yang keduanya menjadi wiraswastawan sukses di kota Madinah. Sebagaimana
tercermin dalam hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah:
باكروا
فى طلب الرزق والحوائج فإن الغدوبركة ونجاح. (روه
الطبرانى والبزار)
Artinya : “Berpagi-pagilah
pergi mencari rizki, karena sesungguhnya pada pagi hari itulah terletak berkah
dan keberhasilan”.
Dalam Al-Qur'an juga banyak kita jumpai ayat yang menyuruh umat islam untuk
tekun bekerja demi kebahagiaan dunia, tanpa mengesampingkan persiapan bagi
kebahagiaan di akhirat. Juga ditegaskan bahwa bekerja amat
penting untuk mencapai kesejahteraan hari esok, agar kelanjutan kehidupan
keluarga dan masyarakat dapat terpelihara.
Alam semesta dengan
segala isinya telah disediakan oleh Allah SWT bagi manusia. Akan tetapi manusia
baru akan mendapatkan hasil dari sumber kekayaan alam itu, apabila ia berusaha
dan bekerja. Misalnya untuk menggali sumber kekayaan di sektor pertanian orang
harus membuka lahan pertanian dan mengusahakan penanaman. Untuk menggali
potensi perikanan orang harus berusaha mengadakan penangkapan atau
pembudidayaan ikan. Demikian juga untuk menggali dan mengeksploitasi
sumber-sumber itu, baru ia dapat memperoleh rizqi dari kekayaan alam yang telah
diciptakan oleh Allah SWT.
Memang banyak jalan
yang dapat ditempuh oleh seseorang dalam memperoleh rizqi dan kekayaan. Ada
orang yang memperoleh rizqi dengan cara berwiraswasta, berdagang, bertani atau
menjadi pegawai. Ada juga yang memperoleh rizqi dengan bekerja untuk orang
lain. Disamping itu ada juga sebagian orang yang memperoleh rizqi tanpa
bersusah payah, karena mendapat warisan atau pemberian. Namun demikian Islam
menegaskan kepada umatnya, bahwa jalan untuk mendapatkan rizqi melalui bekerja
keras, bukan atas pemberian pihak lain, lebih utama dan mulia. Dengan kata
lain, bahwa menurut Islam jalan yang paling terpuji untuk memperoleh rizqi dari
Allah SWT adalah dengan meminta-minta atau mengandalkan pemberian orang lain
tidak dikehendaki oleh Islam.
Bahkan keharusan
bekerja dan berusaha ini telah ditunjukkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dalam
banyak ayat Al-Qur'an dan hadits. Perintah-perintah seperti “Berjalanlah
kamu ke segala penjuru dunia”. (فامشوا فى مناكيها)
atau
“Bertebarlah kamu di muka bumi”. (فانتشروا
فى الارض) adalah perintah Allah
SWT kepada manusia agar bekerja dan mencari mata pencaharian di mana pun
berada. Sedangkan hadits Nabi yang menyatakan: “Kamu lebih mengerti tentang
urusan-urusan duniamu”. (انتم اعلم بأمور دنياكم) dapat dijadikan bukti adanya keleluasaan
yang diberikan Islam kepada pemeluknya untuk bebas berbuat dan mengatur sendiri
hal-hal yang bersifat keduniaan, termasuk masalah teknis bekerja dan memajukan
ekonomi umat. Sebab, Nabi SAW pernah bahwa umatnya lebih mengerti tentang
urusan dunia dan mampu mengembangkan teori-teori keduniaan untuk mencapai
kesejahteraan hidup di dunia, misalnya cara meningkatkan produktivitas kerja
dengan ketrampilan, ilmu dan teknologi. Lebih dari itu, kedatangan Nabi
Muhammad SAW, memang tidak diutus untuk mengajari manusia tentang ketrampilan
kerja, kerajinan tangan, perindustrian, dan seluk beluk pertanian, atau hal-hal
yang menyangkut teori-teori ilmu pengetahuan.
Keleluasaan umat Islam
mengatur urusan dunia, menuntut adanya kemampuan menjabarkan ajaran Islam di
dalam menjawab segala tantangan zaman modern, dumana Islam adalah satu-satunya
agama yang memiliki konsep yang lengkap tentang berbagai aspek kehidupan, meliputi
ekonomi, politik, sosial, kebudayaan dan sebagainya. Sehingga Islam harus
dipahami tidak sebatas ibadah formalnya saja seperti sholat, puasa, zakat dan
hajji. Tetapi umat Islam harus mampu menjadikan Islam sebagai solusi bagi
segala persoalan hidup, baik ukhrawi maupun duniawi. Pengajian-pengajian dan
ceramah agama yang selama ini terlihat masih terlalu banyak membahas tentang
akhirat, hendaknya perlu diluruskan supaya berimbang dengan pembahasan tentang
problem kehidupan dunia.
Dan khusus mengena
ketertinggalan umat Islam dalam hal etos kerja, kiranya masyarakat muslim awam
yang pada umumnya hanya memiliki pemahaman Islam secara tradisional, yaitu
ajaran Islam dipandang sebatas ibadah-ibadah ritual saja, harus disadarkan
bahwa sebenarnya Islam adalah agama yang mendorong bukan menghalang-halangi
pemeluknya untuk sukses dan hidup bahagia di dunia. Islam tidak sekali-kali
mengajarkan umatnya untuk “Biarlah di dunia ini menderita atau melarat, asalkan
mendapat kebahagiaan di akhirat”.
Penegasan ini perlu,
sebab salah satu kekeliruan umat Islam selama ini adalah sering menyalah
artikan cara mendapat kebahagiaan akhirat. Seolah-olah kebahagiaan itu akan
diperoleh hanya dengan memperbanyak ibadah ritual, kalau perlu dengan
menyelenggarakan hidupnya, sedangkan kerja dianggapnya hanya urusan dunia yang
seakan-akan cuma mengganggu upaya untuk memperoleh akhirat. Padahal Allah SWT
menyuruh manusia mencari anugerah-Nya tidak hanya untuk kebahagiaan akhirat
tapi sekaligus untuk kesejahteraan hidup di dunia. Keduanya baru bisa diperoleh
manakala ada keseimbangan antara ibadah ritual dan bekerja keras untuk urusan
dunia. Allah SWT berfirman:
Artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)”.
Bila kita pahami makna ayat diatas dalam konteks kekinian tentu akan
membuahkan pengertian, bahwa kerja sebagai sarana mencapai kesejahteraan
merupakan perbuatan yang dipandang mulia dan luhur oleh Islam, dan termasuk
ibadah manakala didasari dengan sikap-sikap keagamaan. Isya
Allah interpretasi semacam ini akan sangat bermanfaat untuk memacu semangat
hidup kaum muslimin supaya memiliki etos kerja yang unggul dan mudah diajak
berkembang dan maju, sehingga bisa mencapai tingkat produktivitas kerja yang
tinggi. Dengan begitu niscaya proses pembangunan untuk mewujudkan manusia
seutuhnya akan benar-benar tercapai sesuai dengan yang dicita-citakan.
Memang sesuai kodrat
dan iradrat Allah SWT di dunia ini ada kelompok masyarakat atau bangsa yang
dikaruiai memiliki semangat kerja begitu tinggi sehingga mampu mencapai taraf
kemajuan ekonomi yang mengagumkan. Sebaliknya, ada pula masyarakat yang sangat
lemah etos kerjanya, sulit diajak maju sehingga lamban perkembangannya dan
selalu ketinggalan dalam mencapai kemajuan dibandingkan dengan masyarakat lain.
Oleh karena itu, dalam memahami konteks kerja sebagai ibadah, kaum muslimin
harus ditekankan bahwa bekerja merupakan kegiatan yang paling penting dalam
kehidupan manusia, sebagai tanpa kerja sulit dibanyangkan bagaimana akan lahir
suatu masyarakat modern dan maju seperti sekarang ini. Disamping itu, dengan
bekerja itulah memungkinkan seseorang mengembangkan diri serta mematangkan
kepribadiannya guna mewujudkan kualitas iman dan takwa. Bukankah Allah SWT
telah menjanjikan:
Artinya : “dan
bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan
agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang
mereka tiada dirugikan”. (QS. Al-Ahqaf:
19)
Hanya sayangnya, justru
di kalangan umat islam sendiri kebanyakan motivasi dan tujuan kerja mereka pada
umumnya masih lebih banyak dipengaruhi oleh tujuan yang sekedar untuk
mengumpulkan harta dan kekayaan pribadi guna memuaskan kesenangan, kemegahan
dan kekayaan pribadi guna memuaskan kesenangan, kemegahan dan berbangga-bangga
yang sifatnya hanya mementingkan diri sendiri.
Sebenarnya meski kerja
itu pada tujuan pokoknya adalah untuk kepentingan ekonomi, yaitu memenuhi
kebutuhan dasar hidup manusia berupa makanan, pakaian, dan tempat kediaman.
Tetapi bagi orang Islam, kerja bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan fisik
semata, melainkan secara prinsip adalah sebagai ujud pelaksanaan perintah Allah
SWT, yakni beribadah. Di mana kriteria kerja yang tergolong ibadah menurut
Islam dapat dijabarkan ciri-ciri sebagai berikut: Pertama bahwa
seseorang bekerja tidak hanya supaya pendapatan pribadinya meningkat, tetapi
mengusahakan agar orang lain juga bisa bekerja dan berkembang. Kedua,
jika membuka usaha hendaknya tidak hanya mengejar untuk tetapi juga
memperhatikan akibat-akibat negatif bagi masyarakat. Ketiga,
memperlakukan karyawan secara manusiawi, tidak hanya dianggap sebagai alat
produksi. Keempat, memiliki etika kerja yang luhur sesuai akhlak Isami,
misalnya berpegang teguh pada ketentunan hukum halal serta norma-norma yang
baik (حلالا طيبا)
dan
menjauhi cara-cara haram, penipuan dan kezaliman. Kelima, menyadari
semua pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut sebagai karunia Allah SWT
dan mengeluarkan sebagainya untuk amal sosial, baik dalam bentuk sunnah atau
wajib seperti zakat, infaq, dan sedekah.
Selain hal-hal yang
telah diuraikan di atas, tentunya masih banya lagi yang harus diperhatikan oleh
setiap orang Islam tentang besarnya perhatian Islam terhadap masalah etos kerja
daam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dan satu hal yang patut
kita camkan sebelum mengakhiri khotbah ini ialah bahwa seseorang akan bahagia
dan merasakan kepuasan batin manakala ia mengetahui bahwa hasil karya, prestasi
kerja, dan jerih payah yang dilakukannya dapat mendatangkan manfaat. Selain
untuk dirinya juga bermanfaat bagi orang lain dan secara umum dapat menyumbang
untuk masyarakat dan tanah airnya. Apalagi kalau ia dapat menempatkan semua
aktivitas kerjanya itu di jalan Allah SWT sebagai amal ibadah kepada-Nya.
Rasulullah bersabda:
خير
الناس انفعهم للناس
Arrtinya : “Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesamanya”.
Dengan kata lain,
sukses tidaknya seseorang tidak dapat di nilai hanya dari kekayaan materi,
melainkan dari kesuksesan yang diperoleh seseorang dalam mengerjakan sesuatu
yang menjadi pilihan hati nurani dan cita-cita hidupnya sesuai tuntunan agama.
Jadi, meskipun secara materi seseorang itu sangat kaya namun kalau yang ia
kerjakan tidak memberi makna untuk peningkatan harkatnya sebagai manusia yang
saleh, maka kesuksesan itu semu dan akan sia-sia belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar