Rabu, 09 Oktober 2013

ETOS KERJA KUNCI PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA


Marilah kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT melalui peningkatan etos kerja yang sebaik-baiknya, sesuai firman Allah SWT:


Artinya  : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)

Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya umat, Rasulullah terlebih dahulu menanamkan akidah, lalu Beliau memacu etos kerja dan menegakkan disiplin kepada para sahabat dan senantiasa mengajarkan sikap berani hidup mandiri di kalangan mereka, seperti dibuktikan oleh sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang keduanya menjadi wiraswastawan sukses di kota Madinah. Sebagaimana tercermin dalam hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah:
باكروا فى طلب الرزق والحوائج فإن الغدوبركة ونجاح. (روه الطبرانى والبزار)
Artinya  :  “Berpagi-pagilah pergi mencari rizki, karena sesungguhnya pada pagi hari itulah terletak berkah dan keberhasilan”.

Dalam Al-Qur'an juga banyak kita jumpai ayat yang menyuruh umat islam untuk tekun bekerja demi kebahagiaan dunia, tanpa mengesampingkan persiapan bagi kebahagiaan di akhirat. Juga ditegaskan bahwa bekerja amat penting untuk mencapai kesejahteraan hari esok, agar kelanjutan kehidupan keluarga dan masyarakat dapat terpelihara.
Alam semesta dengan segala isinya telah disediakan oleh Allah SWT bagi manusia. Akan tetapi manusia baru akan mendapatkan hasil dari sumber kekayaan alam itu, apabila ia berusaha dan bekerja. Misalnya untuk menggali sumber kekayaan di sektor pertanian orang harus membuka lahan pertanian dan mengusahakan penanaman. Untuk menggali potensi perikanan orang harus berusaha mengadakan penangkapan atau pembudidayaan ikan. Demikian juga untuk menggali dan mengeksploitasi sumber-sumber itu, baru ia dapat memperoleh rizqi dari kekayaan alam yang telah diciptakan oleh Allah SWT.
Memang banyak jalan yang dapat ditempuh oleh seseorang dalam memperoleh rizqi dan kekayaan. Ada orang yang memperoleh rizqi dengan cara berwiraswasta, berdagang, bertani atau menjadi pegawai. Ada juga yang memperoleh rizqi dengan bekerja untuk orang lain. Disamping itu ada juga sebagian orang yang memperoleh rizqi tanpa bersusah payah, karena mendapat warisan atau pemberian. Namun demikian Islam menegaskan kepada umatnya, bahwa jalan untuk mendapatkan rizqi melalui bekerja keras, bukan atas pemberian pihak lain, lebih utama dan mulia. Dengan kata lain, bahwa menurut Islam jalan yang paling terpuji untuk memperoleh rizqi dari Allah SWT adalah dengan meminta-minta atau mengandalkan pemberian orang lain tidak dikehendaki oleh Islam.
Bahkan keharusan bekerja dan berusaha ini telah ditunjukkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dalam banyak ayat Al-Qur'an dan hadits. Perintah-perintah seperti “Berjalanlah kamu ke segala penjuru dunia”. (فامشوا فى مناكيها) atau “Bertebarlah kamu di muka bumi”. (فانتشروا فى الارض) adalah perintah Allah SWT kepada manusia agar bekerja dan mencari mata pencaharian di mana pun berada. Sedangkan hadits Nabi yang menyatakan: “Kamu lebih mengerti tentang urusan-urusan duniamu”. (انتم اعلم بأمور دنياكم) dapat dijadikan bukti adanya keleluasaan yang diberikan Islam kepada pemeluknya untuk bebas berbuat dan mengatur sendiri hal-hal yang bersifat keduniaan, termasuk masalah teknis bekerja dan memajukan ekonomi umat. Sebab, Nabi SAW pernah bahwa umatnya lebih mengerti tentang urusan dunia dan mampu mengembangkan teori-teori keduniaan untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia, misalnya cara meningkatkan produktivitas kerja dengan ketrampilan, ilmu dan teknologi. Lebih dari itu, kedatangan Nabi Muhammad SAW, memang tidak diutus untuk mengajari manusia tentang ketrampilan kerja, kerajinan tangan, perindustrian, dan seluk beluk pertanian, atau hal-hal yang menyangkut teori-teori ilmu pengetahuan.
Keleluasaan umat Islam mengatur urusan dunia, menuntut adanya kemampuan menjabarkan ajaran Islam di dalam menjawab segala tantangan zaman modern, dumana Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki konsep yang lengkap tentang berbagai aspek kehidupan, meliputi ekonomi, politik, sosial, kebudayaan dan sebagainya. Sehingga Islam harus dipahami tidak sebatas ibadah formalnya saja seperti sholat, puasa, zakat dan hajji. Tetapi umat Islam harus mampu menjadikan Islam sebagai solusi bagi segala persoalan hidup, baik ukhrawi maupun duniawi. Pengajian-pengajian dan ceramah agama yang selama ini terlihat masih terlalu banyak membahas tentang akhirat, hendaknya perlu diluruskan supaya berimbang dengan pembahasan tentang problem kehidupan dunia.
Dan khusus mengena ketertinggalan umat Islam dalam hal etos kerja, kiranya masyarakat muslim awam yang pada umumnya hanya memiliki pemahaman Islam secara tradisional, yaitu ajaran Islam dipandang sebatas ibadah-ibadah ritual saja, harus disadarkan bahwa sebenarnya Islam adalah agama yang mendorong bukan menghalang-halangi pemeluknya untuk sukses dan hidup bahagia di dunia. Islam tidak sekali-kali mengajarkan umatnya untuk “Biarlah di dunia ini menderita atau melarat, asalkan mendapat kebahagiaan di akhirat”.
Penegasan ini perlu, sebab salah satu kekeliruan umat Islam selama ini adalah sering menyalah artikan cara mendapat kebahagiaan akhirat. Seolah-olah kebahagiaan itu akan diperoleh hanya dengan memperbanyak ibadah ritual, kalau perlu dengan menyelenggarakan hidupnya, sedangkan kerja dianggapnya hanya urusan dunia yang seakan-akan cuma mengganggu upaya untuk memperoleh akhirat. Padahal Allah SWT menyuruh manusia mencari anugerah-Nya tidak hanya untuk kebahagiaan akhirat tapi sekaligus untuk kesejahteraan hidup di dunia. Keduanya baru bisa diperoleh manakala ada keseimbangan antara ibadah ritual dan bekerja keras untuk urusan dunia. Allah SWT berfirman:

Artinya  :  “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)”.

Bila kita pahami makna ayat diatas dalam konteks kekinian tentu akan membuahkan pengertian, bahwa kerja sebagai sarana mencapai kesejahteraan merupakan perbuatan yang dipandang mulia dan luhur oleh Islam, dan termasuk ibadah manakala didasari dengan sikap-sikap keagamaan. Isya Allah interpretasi semacam ini akan sangat bermanfaat untuk memacu semangat hidup kaum muslimin supaya memiliki etos kerja yang unggul dan mudah diajak berkembang dan maju, sehingga bisa mencapai tingkat produktivitas kerja yang tinggi. Dengan begitu niscaya proses pembangunan untuk mewujudkan manusia seutuhnya akan benar-benar tercapai sesuai dengan yang dicita-citakan.
Memang sesuai kodrat dan iradrat Allah SWT di dunia ini ada kelompok masyarakat atau bangsa yang dikaruiai memiliki semangat kerja begitu tinggi sehingga mampu mencapai taraf kemajuan ekonomi yang mengagumkan. Sebaliknya, ada pula masyarakat yang sangat lemah etos kerjanya, sulit diajak maju sehingga lamban perkembangannya dan selalu ketinggalan dalam mencapai kemajuan dibandingkan dengan masyarakat lain. Oleh karena itu, dalam memahami konteks kerja sebagai ibadah, kaum muslimin harus ditekankan bahwa bekerja merupakan kegiatan yang paling penting dalam kehidupan manusia, sebagai tanpa kerja sulit dibanyangkan bagaimana akan lahir suatu masyarakat modern dan maju seperti sekarang ini. Disamping itu, dengan bekerja itulah memungkinkan seseorang mengembangkan diri serta mematangkan kepribadiannya guna mewujudkan kualitas iman dan takwa. Bukankah Allah SWT telah menjanjikan:


Artinya  :  “dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan”. (QS. Al-Ahqaf: 19)

Hanya sayangnya, justru di kalangan umat islam sendiri kebanyakan motivasi dan tujuan kerja mereka pada umumnya masih lebih banyak dipengaruhi oleh tujuan yang sekedar untuk mengumpulkan harta dan kekayaan pribadi guna memuaskan kesenangan, kemegahan dan kekayaan pribadi guna memuaskan kesenangan, kemegahan dan berbangga-bangga yang sifatnya hanya mementingkan diri sendiri.
Sebenarnya meski kerja itu pada tujuan pokoknya adalah untuk kepentingan ekonomi, yaitu memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia berupa makanan, pakaian, dan tempat kediaman. Tetapi bagi orang Islam, kerja bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan fisik semata, melainkan secara prinsip adalah sebagai ujud pelaksanaan perintah Allah SWT, yakni beribadah. Di mana kriteria kerja yang tergolong ibadah menurut Islam dapat dijabarkan ciri-ciri sebagai berikut: Pertama bahwa seseorang bekerja tidak hanya supaya pendapatan pribadinya meningkat, tetapi mengusahakan agar orang lain juga bisa bekerja dan berkembang. Kedua, jika membuka usaha hendaknya tidak hanya mengejar untuk tetapi juga memperhatikan akibat-akibat negatif bagi masyarakat. Ketiga, memperlakukan karyawan secara manusiawi, tidak hanya dianggap sebagai alat produksi. Keempat, memiliki etika kerja yang luhur sesuai akhlak Isami, misalnya berpegang teguh pada ketentunan hukum halal serta norma-norma yang baik (حلالا طيبا) dan menjauhi cara-cara haram, penipuan dan kezaliman. Kelima, menyadari semua pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut sebagai karunia Allah SWT dan mengeluarkan sebagainya untuk amal sosial, baik dalam bentuk sunnah atau wajib seperti zakat, infaq, dan sedekah.
Selain hal-hal yang telah diuraikan di atas, tentunya masih banya lagi yang harus diperhatikan oleh setiap orang Islam tentang besarnya perhatian Islam terhadap masalah etos kerja daam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dan satu hal yang patut kita camkan sebelum mengakhiri khotbah ini ialah bahwa seseorang akan bahagia dan merasakan kepuasan batin manakala ia mengetahui bahwa hasil karya, prestasi kerja, dan jerih payah yang dilakukannya dapat mendatangkan manfaat. Selain untuk dirinya juga bermanfaat bagi orang lain dan secara umum dapat menyumbang untuk masyarakat dan tanah airnya. Apalagi kalau ia dapat menempatkan semua aktivitas kerjanya itu di jalan Allah SWT sebagai amal ibadah kepada-Nya. Rasulullah bersabda:
خير الناس انفعهم للناس
Arrtinya    :      Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesamanya”.

Dengan kata lain, sukses tidaknya seseorang tidak dapat di nilai hanya dari kekayaan materi, melainkan dari kesuksesan yang diperoleh seseorang dalam mengerjakan sesuatu yang menjadi pilihan hati nurani dan cita-cita hidupnya sesuai tuntunan agama. Jadi, meskipun secara materi seseorang itu sangat kaya namun kalau yang ia kerjakan tidak memberi makna untuk peningkatan harkatnya sebagai manusia yang saleh, maka kesuksesan itu semu dan akan sia-sia belaka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar