Jumat, 20 September 2013

DAMPAK IDUL ADHA TERHADAP SOSIAL EKONOMI UMAT


Kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah, atas karunia dan nikmat-Nya. Dipagi nan indah ini kita masih diberi umur panjang dan kesehatan, sehingga untuk kesekian kalinya kita berkesempatan menikmati keagungan Idul Adha sebagai hari besar Islam untuk mengagungkan Allah, memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Ada dua peristiwa sakral dan agung pada hari raya Idul Adha, yaitu disyariatkannya kurban dan kewajiban haji, yang kedua-duanya merupakan syariat yang berasal dari sejarah kehidupan Nabiyullah Ibrahim As.
Syariat kurban dimulai dari peristiwa besar yang dialami oleh Nabi Ibrahim as, yaitu ketika para malaikat yang dipelopori oleh Jibril as, bertanya kepada Allah. Ya tuhan, mengapa Engkau memberi gelar Khalilullah (kekasih Allah) kepada Ibrahim, padahal ia selalu sibuk dengan kekayaan dan urusan keluarga? Bagaimana mungkin dia dengan kesibukannya itu pantas menjadi kekasih-Mu? Allah berfirman, Jangan kalian menilai hamba-Ku Ibrahim dengan ukuran lahiriah, tapi lihatlah isi hati dan amal baktinya. Tiadalah di hati kekasih-Ku itu rasa cinta selain kepada-Ku. Bila kalian ingin mencoba, ujilah dia. Maka segera malaikan Jibril as, mendatangi Nabi Ibrahim untuk menguji dengan berbagai ujian, yang ternyata memang terbukti bahwa kekayaan dan urusan keluarganya sedikit pun tidak membuat dirinya lalai dalam mengabdi kepada Allah.
Kemudian, ketika Allah sendiri berkenan menguji Nabi Ibrahim dengan perintah menyembelih Ismail, anaknya yang tersayang, beliaupun dengan tabah dan tawakal menerima perintah itu, sehingga kisah kejadiannya diabadikan oleh Allah dalam kitab suci-Nya:


Artinya  : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shaffat: 102)

Tatkala keduanya siap hendak melaksanakan perintah penyembelihan, Iblis datang menggoda kepada Nabi Ibrahim, juga kepada isterinya, Hajar dan Ismail. Ketiganya satu persatu dibujuk agar membatalkan niat Nabi Ibrahim, namun semuanya tetap tegar tidak tergoyahkan. Nabi Ibrahim semakin memantapkann hatinya, begitu pula Ismail as, telah pasrah bulat-bulat dan tawakal. Allah berfirman:


Artinya  : Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata”. (QS. Ash-Shaffat: 103-106)

Kemudian Allah SWT memberikan kabar gembira, menyuruh Ibrahim menghentikan pengorbanan anaknya dan Allah SWT berkenan menggantinya dengan seekor domba yang besar dari surga:


Artinya  : “dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". (QS. Ash-Shaffat: 107-109)

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Menyaksikan peristiwa agung yang tiada bandinnya dalam sejarah umat manusia itu, malaikat Jibril sangat kagum. Karenanya ia lantas memberi salam seraya berseru Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Nabi Ibrahim langsung menjawab, Laa ilaaha illallahu Wallahu Akbar. Dan ismail pun menyahut Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim dengan putranya, Ismail, dan ketabahan isterinya, Hajar memberikan contoh kepada kita betapa pentingnya fungsi iman bagi kehidupan keluarga agar kita dapat menempatkan kewajiban taat kepada Allah SWT di atas segala-segalanya. Artinya ketaatan kepada Allah SWT harus diletakkan di atas kecintaan seorang ayah terhadap anak istri dan diatas kecintaannya pada harta, kedudukan serta kesenangan ataupun kebanggaan lainnya. Sebab perintah dan ajaran yang telah digariskan oleh Allah SWT harus kita junjung setinggi-tingginya diatas segalanya, harus kita laksanakan dengan tekad yang bulat, tanpa keengganan dan pembangkangans sedikit pun.
Keluarga Nabiyullah Ibrahim telah menunjukkan contoh yang demikian itu, yaitu kehidupan rumah tangga muslim yang benar-benar dibangun dengan kekompakan dan kerukunan yang dilandasi oleh dasar iman dan takwa. Bagi keluarga yang demikian tentu tak ada satu pengorbanan pun yang dirasa berat untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan memperjuangkan agama-Nya.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Hari ini begitu usai melakukan shalad Id hingga hari-hari tasyriq tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah, umat Islam yang mampu diperintahkan untuk berkorban degan memotong hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Bahkan dari hadits Nabi, bisa dipahami bahwa menyembelih ternah kurban merupakan keharusan bagi setiap muslim yang mampu, di mana Rasulullah mengancam orang yang tidak mau berkurban tidak boleh mendekati tempat shalat Beliau, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini:
من كان له سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا (الحديث)
Artinya  : Barangsiapa punya kelapangan reziki tapi tidak berkurban maka tak patut ia mendekat musholla (tempat shalat kami

Menurut pernyataan Al-Qur'an sebenarnya ajaran tentang kurban telah disyariatkan kepada berbagai bangsa disegala zaman, meski dengan bentuk yang berbeda-beda seperti dinyatakan dalam sebuah ayat:


Artinya  : “dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak . (QS. Al-Hajj: 34)

Akan tetapi di dalam syariat Islam ibadah kurban memperoleh makna yang baru sama sekai. Yaitu jika pada agama-agama sebelum Islam ibadah kurban dimaksudkan antara lain untuk meredakan murka Tuhan atau untuk penebusan dosa, maka di dalam Islam kurban dimaksudkan sebagai lambang kerelaan seseorang mengorbankan apa saja yang dimilikinya untuk mengabdi kepada Allah SWT dengan menanti segala perintah-Nya, baik perintah ibadah ritual maupun ibadah sosial.
Jelasnya, ibadah kurban di dalam Islam bukanlah untuk sekadar mengalirkan darah binatang yang dikurbankan dan membagi-bagikan dagingnya kepada fakir miskin, tetapi juga memiliki nilai dan makna rohaniah yang sangat dalam dan dampak sosial yang sangat besar. Karena itulah, ibadah kurban tidak bisa diganti dengan memberi uang, disamping waktunya pun sudah tertentu, yaitu tanggal sepuluh sampai tiga belas Dzulhijjah.


Allah SWT berfirman:


Artinya  : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (QS. Al-Hajj: 37)

Secara spikologis binatang yang dikurbankan itu melambangkan sifat kebinatangan yang melekat pada diri manusia, seperti sifat kejam, serakah dan egois, yang perlu dibuang dengan tebusan penyembelihan hewan sebagai upaya memenuhi panggilan dan peringatan Allah SWT. Oleh karena itu darah yang mengalir dari binatang kurban hendaknya bisa membuat kita menjadi insaf, bahwa binatang saja rela untuk mati demi menuruti kemauan manusia yang menguasainya. Maka sewajarnyalah jika manusia suka berkorban di jalan Allah SWT, yang kekuasaan-Nya atas manusia jauh lebih besar dibanding kekuasaan manusia atas hewan. Karena Allah SWT bukan saja kuasa atas manusia, akan tetapi Dialah yang menciptakannya dan memeliharanya.
Ayat diatas juga menunjukkan bahwa penyembelihan hewan kurban sangat berkaiatan dengan ketakwaan seseorang. Dengan kualitas takwanya manusia akan sadar bahwa sebagai hamba Allah SWT mereka harus rela mengorbankan apa saja, harta, tahta, dan bahkan jiwa sekalipun kalau memang diperlukan harus pula dikorbankan demi menegakkan tauhid dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran serta keadilan sosial.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Kesediaan seorang mukmin menyembelih hewan kurban sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahm as. Merupakan wujud pengamalan iman untuk lebih mendekatkan diri atau takarub kepada Allah SWT dengan rasa taat dan ikhlas karena Allah SWT semata. Dan penyembelihan kurban yang dagingnya dibagikan kepada fakir miskin itu secara kongkrit telah menunjukkan keperdulian orang-orang yang beriman untuk turut melaksanakan ajaran keadilan sosial dan menunjukkan rasa kesetiakawanan yang diajarkan oleh Islam. Sebab ibadah kurban jelas merupakan pengamalan ajaran agama yang melambangkan rasa solidaritas dan kasih sayang antar sesama manusia. Ia merupakan manifestasi kongkrit seberapa jauh Islam mengajarkan kepada pemelunya untuk senantiasa memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Disamping itu bukankah agama Islam senantiasa mengajarkan umatnya supaya menunaikan tugas-tugas sosial kemasyarakatan dalam usaha menciptakan kehidupan yang hasanah, di dunia dan akhirat? Semua tugas kemasyarakata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bagi setiap muslim merupakan tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan, baik secara individu maupun kelompok. Orang Islam tidak dibenarkan hidup egois dan melepaskan diri dari tanggung jawab sosial. Masing-masing probadi muslim diperintahkan untuk peka dan ikut bertanggung jawab terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Pendeknya, kita semua dituntut oleh ajaran agama untuk senantiasa meningkatkan rasa kepedulian sosial dan kesetiakawanan, dan terus berperan aktif dalam mengisi pembangunan manusia seutuhnya. Karena Rasulullah SAW sangat mencela orang Islam yang bersikap acuh tak acuh terhadap kepentingan masyarakat dan mengabaikan perjuangan agamanya, seperti diterangkan dalam hadits.
من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم.
Artinya  : “Barang siapa tidak mau mementingkan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka”.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Kalau kita perhatikan dengan seksama hikmah-hikmah keagamaan di dalam Islam, niscaya akan dapat kita rasakan, bahwa semua amal inadah dalam Islam hakikatnya merupakan penjabaran dari pelaksanaan tanggung jawab sosial, yang erat kaitannya dengan upaya peningkatan kesejahteraan sosia umat manusia. Mulai dari shalat, puasa, zakat, haji, syariat kurban dan lain-lain, semuanya terkait dengan kepentingan sosial kemasyarakatan. Misalnya, ibadah puasa mengandung hikmah menumbuhkan rasa kasih sayang kepada kaum dhuafa. Zakat, infak dan sedekah punya himah memberantas sifat kikir dan menunjang pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Lalu bagaimana dengan hikmah ibadah haji? Jelas punya banyak hikmah, dianataranya menanamkan semangat rela berkorban dan ikhlas berjuang. Selain itu pelaksanaan ibadah haji membawa dampak positif yang sangat luas terhadap perkembangan sosial ekonomi global kehidupan manusia.
Idhul Adha yang disebut juga hari raya haji dirayakan oleh umat Islam sedunia secara tepusat di Padang Arafah, yaitu oleh jamaah haji yang sedang menyempurnakan manasih hajinya. Sementara kita yang tidak hadir di sana, marilah dalam kesempatan ini kita luangkan sejenank untuk mengetahui sejauh mana hikmah-hikmah haji dan dampak sosial ekonominya dalam konstelasi perekonomian dunia. Terutama bagi kaangan cendekiawan, tentu kesempatan ini merupakan saat yang tepat untuk memperdalam renuangan spiritual dan kajian intelektual.
Allah berfirman:


Artinya  : Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. (QS. Al-Hajj: 27-28)

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Pada saat ini para jamaah haji tengah menikmati dan membuktikan sendiri kebenaran firman-firman Allah di atas. Mereka menjadi tamu-tamu kehormatan Allah yang telah dikaruniai kemampuan baik harta, kesehatan dan sarana lainnya, serta diberi keteguhan iman dan takwa hingga bersedia memenuhi panggilan Tuhannya, seperti yang diperitahkan dalam Al-Qur’an:


Artinya  : “Adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah”. (QS. Ali-Imran: 97)

Didalam memahami ayat di atas kita jangan melalaikan prinsip bahwa perintah ibadah haji itu, karena teramat berat syarat-syaratnya, maka hanya sekali yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang selama hidupnya. Itu pun baru diwajibkan apabila ia sudah memenuhi syarat-syarat istitha’ah (berkemampuan). Yaitu mampu dari segi perbekalan atau perbelanjaan, adanya alat transportasi atau kendaraan, dan juga adanya jaminan keamanan perjalanan pelaksanaan haji.
Dari pengertian istitha’ah tersebut, Islam melalui ibadah haji mendorong umatnya untuk mempelopori terwujudnya keamanan dan perdamaian dunia, serta terciptanya hubungan yang luas antar umat manusia. Disamping itu, pelaksanaan ibadah haji juga mendorng kaum muslimin untuk membangun perekonomian guna meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi rakyat, agar semakin besar jumlah jamaah yang pergi haji ke Baitullah. Bahkan dampak makronya, pelaksanaan haji itu tidak hanya memberi manfaat kepada umat Islam saja, tapi umat di luar Islam pun ikut serta merasakan manfaat dan ikut meraih keuntungan dari proyek akhirat yang menyerap biaya besar serta punya nilai ekonomi yang tinggi itu.
Sebab, untuk terlaksananya ibadah hal yang diikuti oleh jutaan manusia dari berbagai bangsa dan negara di dunia, harus ditunjang oleh berbagai sarana dan prasarana dalam jumlah yang amat besar. Dari sinilah, maka diperlukan macam-macam komoditi dan produk-produk industri, terutama dari negara-negara kaya sebagai pemasoknya, yang hal ini tentu mendatangkan keuntungan bisni yang tidak kecil nilainya.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Dari uraian di atas, kiranya kita perlu lebih meresapi lagi kesucian agama kita ini. Alangkah indah dan mulianya ajaran Islam di dalam menanamkan rasa persatuan, kebersamaan dan solidaritas sosial di kalangan umat manusia melalui hikmah penerapan satu bukti keagungan dan keuniversalan Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi alam semesta. Namun demikian, terlepas dari besarnya hikmah-hikmah tersebut, yang penting bagi umat Islam, Idul Adha adalah hari besar yang amat istimewa untuk mengagungkan kebesaran Allah dan meluaskan syiar Islam di seluruh jagad raya, seperti ditegaskan oleh firman Allah


Artinya  : Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah[990], Maka Sesungguhnya itu timbul dari Ketakwaan hati. (QS. Al-Hajj: 32)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar