Kamis, 19 September 2013

CENDEKIAWAN PEJUANG DI TENGAH-TENGAH KEMODERNAN


 Marilah kita berupaya meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT, melalui peningkatkan pemahaman ajaran agama serta kepedulian kita terhadap masalah-masalah sosial keagamaan.
Perilaku, gaya hidup, norma pergaulan, dan tata kehidupan yang dipraaktikkan oleh masyarakat dewasa ini, semakin condong menenggelamkan ke dalam jurang kemaksiatan. Orang-orang berangsur-angsur menjadi lalai akan tujuan hidupnya, yang mestinya untuk ibadah, bahkan tidak mau tahu lagi akan hubungan dirinya selaku hamba kepada Tuhan yang menciptakannya, sehingga mereka lupa akan jati dirinya. Akibatnya, bencanapun tidak dapat dielakkan lagi, melanda manusia modern sekarang ini.

Manusia dalam abad teknologi ultra modern, telah diruntuhkan eksistensinya sampai ke tingkat mesin. Roh dan kemuliaannya telah diremehkan begitu rendah. Manusia adalah mesin yang dikendalikan oleh kepentingan finansial untuk menuruti alur hidupnya yang materialistis dan sekuler. Martabat manusia secara berangsur-angsur telah dihancurkan dan kedudukannya betul-betul direndahkan. Sebab, masalah kronis yang dihadapi umat manusia dewasa ini ialah kenyataan, manusia seperti dinyatakan oleh Al-Qur'an, telah melupakan diri dan tuhannya. Padahal telah banyak diungkapkan, baik melalui dalil aqli maupun dalil naqli, bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT tidaklah secara kebetulan, tanpa tujuan, tanpa tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Bukankah dalam Al-Qur'an, sebagaimana yang sering kita baca ayatnya, disebutkan bahwa Allah SWT menciptakan jin dan manusia tidak lain kecuali agar beribadah kepada-Nya.


Artinya  :    Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Adz-dzariyat: 56)

Bahkan lebih jauh, kallau benar-benar dihayati, alam semesta dengan seluruh makhluk yang ada di dalamnya, termasuk benda-benda yang tidak bernyawa sekalipun, semuanya secara total menyembah dan tunduk kepada perintah-perintah Allah SWT dengan caranya sendiri sesuai dengan ketentuan yang diberikan Allah SWT atas mereka.


Artinya  :    “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. (QS. Al-Isra: 44)



Artinya  :    “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?” (QS. Al-Hajj: 18)

Demikianlah realitanya. Kemajuan zaman telah merongrong moral manusia menjadi tenggelam ke dalam pemuasan nafsu dan syahwatnya. Padahal sikap menenggelamkan diri dalam tipuan hawa nafsu pasti akan mengakibatkan memudarnya perasaan keagamaan dan melemahnya pengaruh agama, bahkan dapat menyebabkan orang menjauh dari agam. Al-Qur'an telah menandaskan hal ini, yakni bila hati manusia telah menjadi hitam kelam, keruh dan keras karena dosa-dosa, maka tak satu pun celah dapat ditembus oleh cahaya iman:


Artinya  : Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi”. (QS. Al-Baqarah: 74)

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa di abad iptek yang canggih ini, akal manusia telah mengalami kemajuan sains dan teknologi belum pernah bisa dicapai setinggi abad ini untuk dinikmati sepuas-puasnya. Namun sayangnya, hati dan jiwa manusia justru ditelantarkan menjadi lemah dan rapuh, serta dibiarkan semakin menjauh dari kebutuhan fitrahnya, yaitu terjalinnya hablun minallah dan hablun minannas.
Oleh karena itu, orang yang bijak, tentu akan sering bertanya kepada hati sanubarinya. Apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh manusia dengan peradabannya yang modern ini? Coba kita berpikir secara filosifis, obyektif dan kritis. Apa yang telah dilakukan oleh peradaban modern itu untuk manusia? Apa yang dapat dilakukannya untuk mengubah manusia dan mengarahkannya menuju sasaran-sasaran yang agung dan mulia, agar manusia memiliki hati yang suci ketika menghadap kepada Tuhannya? Bukankan peradaban modern sampai saat ini, kerjanya hanya mengeksploitasi kekayaan alam, meningkatkan produksi barang-barang baru, lalu sibuk berebut lahan pemasarannya? Sementara manusia menjadi buta akan jati dirinya, melainkan keberadaannya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, yang tujuan hidupnya adalah beribadah kepada-Nya.

Dari fenomena pelecehan nilai-nilai agama seperti yang diuraikan di atas barangkali dapat dianalisa, bahwa arus modernisasi dengan pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi yang kian melanda semua aspek kehidupan manusia ini harus diimbangi oleh kesedihan manusia sendiri untuk membentengi jiwa dan rohaninya, melalui keimanan dan pengamalan agama, serta berpegang teguh pada nilai-nilai luhur ajarannya.
Memang, dari sudut pengamatan lain tampak juga, bahwa di tengah-tengah peradaban modern yang sekuler ini ternyata muncul pula kebangkitan kehidupan beragama di kalangan umat manusia dari seluruh penjuru dunia. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya ekspresi-ekspresi keagamaan diperbagai negeri muslim. Apabila bagi sebagian umat Islam di kalangan masyarakat kita, fenomena kesemarakan dan kegairahan beragama itu sering kali dijadikan rujukan paling nyata untuk bersikap optimis dalam menatap masa depan yang lebih baik.
Apalagi ada suatu kenyataan yang seakan-akan di luar dugaan masyarakat muslim pada umumnya, yaitu zaman modern ini ternyata juga mampu melahirkan perilaku kesufian dari kalangan orang-orang profesional, seperti para pengusaha, bisnisman, cendekiawan, intelektual, teknologi dan sebagainya, yang meskipun hidup mereka terlalu sibuk dengan urusan dunia tapi mereka juga tekun dalam pengalaman rohaniah. Cara hidup beragama mereka cenderung menanamkan sikap positif kepada dunia dan menekankan pada pengamalan batiniah. Bahkan mereka mampu menghayati hikmah-hikmah ajaran agama secara mendalam,  tanpa bersikap mengucilkan diri dari aktivitas sosal kemasyarakat. Terbukti kebanyakan mereka rajin menjalankan salat tahajud dan selalu tanggap terhadap panggilan hidup.

Demikian keunikan zaman ini, sehingga sering terlihat pemandangan yang amat mengesankan dan seakan-akan kontradiktif, yaitu banyaknya kaum profesional yang suka wiridan, melakukan zikir dan selalu pasrah kepada Allah SWT, dengan memutar-mutar butiran tasbih, atau membaca Al-Qur'an di mobil disepanjang jalan atau di kantor, perusahaan, juga di sela-sela kesibukannya mengurus bisnis, bahkan saat mereka berada di tengah-tengah hiruk piuknya pertemuan. Mereka tak pernah berhenti mengingati asma Allah SWT, terus menyibukkan diri dalam zikrullah sambil menjalankan tugas-tugas profesinya.

Tak mudah memang menjadi orang yang sedemikian tinggi kualitas iman dan takwanya, sebagai  seorang profesional tapi hidupnya terus menerus berzikir, sambil tak henti-hentinya memikirkan kegiatan profesi duniawi. Mereka adalah orang-orang kaya dan berkuasa, tetapi kekayaan dan kekuasaannya bukan dijadikan pemuas nafsu dan kenikmatan pribadinya. Hati nurani mereka selalu terpanggil untuk membangun masyarakat, seperti membantu kaum lemah, orang sakit dan fakir miskin, serta berjuang untuk membebaskan umat dari belenggu ketidak adilan, kebodohan, dan keterbelakangan.
Bukankah mereka itu teramat pantas bila digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang oleh Al-Qur'an dijuluko sebagai pribadi-pribadi Ulul Albab, yaitu orang-orang yang tercerahkan akal pikiran dan hati nuraninya? Sebab, bukankah Allah SWT telah menunjukkan ciri-ciri kelompok instimewa ini melalui firman-Nya:


Artinya  :  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS. Ali-Imron: 190-191)

Dalam memahami ayat di atas perlu dimengerti, bahwa zikir yang dilakukan kelompok Ulul Albab, yakni orang-orang yang tercerahkan akal pikirannya itu, bukan sekedar zikir secara lisan, atau zikir dengan hati, tetapi mereka lakukan dari segala segi yang dapat mendatangkan nilai ibadah kepada Allah SWT. Dengan kata lain, disamping mereka melaksanakan zikir melalui ibadah mahdhah, juga melaksanakan akivitas kehidupan dalam segala lapangan. Bahkan sebagian besar zikir mereka dilakukan melalui ibadah berupa amal sosial di semua aspek kehidupan. Mereka senantiasa berzikir kepada Allah SWT melalui sikap yang konsisten untuk menjalankan perinta-perintah yang diwajibkan oleh Allah SWT. Misalnya ada perintah dari Allah SWT:


Artinya  :  “Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah”. (QS. At-Taubah: 41)

Maka mereka pun berzikir dan beribadah dalam bentuk menunaikan jihad fisabilillah, yakni menjadikan segala aktivitas hidup dan harta kekayaannya untuk memperjuangkan tegaknya agama Allah SWT.
Dan jika perintah itu adalah:


Artinya  :  Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS Tahrim: 6)

Maka mereka berzikir dan beribadah kepada Allah SWT dengan melaksanakan pendidikan terhadap istri, anak, dan seluruh anggota keluarga sesuai dengan jalan yang ditunjukkan Allah SWT, serta membatasi tingkah laku mereka dengan aturan-aturan agama Allah SWT.
Kemudian bila perintah itu berupa perintah mencari rizki sebagaimana firman Allah SWT:


Artinya  :  “Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al-Jumuah: 10)

Maka zikir dan ibadah mereka pun dengan bekerja keras, mencari mata pencharian disegala penjuru dunia untuk mendapatkan rizki Allah SWT dengan etos kerja yang tinggi dan mematuhi hukum halal dan haram, serta etika muamalah yang telah ditetapkan Allah SWT. Sebab, mereka yakin benar akan adanya hisab di hadapan Allah SWT atas kejahatan, kecurangan, kelicikan, kebohongan, kezaliman, dan cara-cara manipulasi dagang yang pernah mereka lakukan.
Demikian pula jika perintah itu berupa perintah kewajiban mencari ilmu pengetahuan, maka zikir dan ibadah mereka pun dengan jalan menuntut ilmu setinggi-tingginya. Baik ilmu itu ilmu agama, agar manusia mengetahui halal, haram, mubah, makruh, dan mandub, maupun ilmu-ilmu sains dan teknologi untuk membudidayakan kekayaan yang dikandung oleh bumi dan alam semesta ini.

Jadi, cara zikir orang-orang yang termasuk golongan Ulul Albab tidak cukup hanya memutar-mutar tasbih, lebih-lebih disertai dengan sikap menjauhkan diri dari realitas sosial dan melupakan kehidupan dunia semata-mata untuk sepenuhnya berkhalwat kepada Allah SWT. Sama sekali tidak. Golongan Ulul Albab tidak aakn mengartikan zikir sesempit itu. Mereka benar-benar memahami zikir sebagai manfestasi ibadah yang harus dilakukan secara seimbang antara ibadah hablun minallah dan hablun minanas. Jadi, mereka memahami dan menghayati makna ibadah dengan pengertian yang sebenar-benarnya secara universal. Di mana dengan pengalaman ibadah yang bisa meliputi dimensi akhirat dan dunia secara universal itulah, maka tujuan hidup manusia yang hakiki, yaitu beribadah, telah dijalani dengan sebaik-baiknya.

Demikianlah sebuah gambaran tentang kedalaman iman dan takwa sebagian cendekiawan dan kelompok profesional yang tergolong Ulul Albab, serta komitmen mereka sebagai pejuang di tengah-tengah gelombang modernitas zmana. Akhirnya, sebagai penutup khorbah, marilah kita berupaya meneladani perjuangan para pendahulu kita, orang-orang saleh, para syuhada, dan Ulul Albab, sesuai dengan profesi dan lapangan kerja kita masing-masing.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar