Marilah kita berupaya
meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT, melalui
peningkatkan pemahaman ajaran agama serta kepedulian kita terhadap
masalah-masalah sosial keagamaan.
Perilaku, gaya hidup,
norma pergaulan, dan tata kehidupan yang dipraaktikkan oleh masyarakat dewasa
ini, semakin condong menenggelamkan ke dalam jurang kemaksiatan. Orang-orang
berangsur-angsur menjadi lalai akan tujuan hidupnya, yang mestinya untuk
ibadah, bahkan tidak mau tahu lagi akan hubungan dirinya selaku hamba kepada
Tuhan yang menciptakannya, sehingga mereka lupa akan jati dirinya. Akibatnya,
bencanapun tidak dapat dielakkan lagi, melanda manusia modern sekarang ini.
Manusia dalam abad
teknologi ultra modern, telah diruntuhkan eksistensinya sampai ke tingkat
mesin. Roh dan kemuliaannya telah diremehkan begitu rendah. Manusia adalah
mesin yang dikendalikan oleh kepentingan finansial untuk menuruti alur hidupnya
yang materialistis dan sekuler. Martabat manusia secara berangsur-angsur telah
dihancurkan dan kedudukannya betul-betul direndahkan. Sebab, masalah kronis
yang dihadapi umat manusia dewasa ini ialah kenyataan, manusia seperti
dinyatakan oleh Al-Qur'an, telah melupakan diri dan tuhannya. Padahal telah
banyak diungkapkan, baik melalui dalil aqli maupun dalil naqli, bahwa manusia
diciptakan oleh Allah SWT tidaklah secara kebetulan, tanpa tujuan, tanpa tugas
dan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Bukankah dalam Al-Qur'an, sebagaimana
yang sering kita baca ayatnya, disebutkan bahwa Allah SWT menciptakan jin dan
manusia tidak lain kecuali agar beribadah kepada-Nya.
Artinya : “Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku”. (QS. Adz-dzariyat: 56)
Bahkan lebih jauh,
kallau benar-benar dihayati, alam semesta dengan seluruh makhluk yang ada di
dalamnya, termasuk benda-benda yang tidak bernyawa sekalipun, semuanya secara
total menyembah dan tunduk kepada perintah-perintah Allah SWT dengan caranya
sendiri sesuai dengan ketentuan yang diberikan Allah SWT atas mereka.
Artinya : “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada
di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih
dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. (QS. Al-Isra: 44)
Artinya : “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa
kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan,
bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian
besar daripada manusia?” (QS. Al-Hajj: 18)
Demikianlah realitanya. Kemajuan zaman telah merongrong moral manusia
menjadi tenggelam ke dalam pemuasan nafsu dan syahwatnya.
Padahal sikap menenggelamkan diri dalam tipuan hawa nafsu pasti akan
mengakibatkan memudarnya perasaan keagamaan dan melemahnya pengaruh agama,
bahkan dapat menyebabkan orang menjauh dari agam. Al-Qur'an telah menandaskan
hal ini, yakni bila hati manusia telah menjadi hitam kelam, keruh dan keras
karena dosa-dosa, maka tak satu pun celah dapat ditembus oleh cahaya iman:
Artinya : “Kemudian setelah
itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi”. (QS. Al-Baqarah:
74)
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa di abad iptek yang canggih ini, akal
manusia telah mengalami kemajuan sains dan teknologi belum pernah bisa dicapai
setinggi abad ini untuk dinikmati sepuas-puasnya. Namun
sayangnya, hati dan jiwa manusia justru ditelantarkan menjadi lemah dan rapuh,
serta dibiarkan semakin menjauh dari kebutuhan fitrahnya, yaitu terjalinnya hablun
minallah dan hablun minannas.
Oleh karena itu, orang
yang bijak, tentu akan sering bertanya kepada hati sanubarinya. Apa sebenarnya
yang telah dilakukan oleh manusia dengan peradabannya yang modern ini? Coba
kita berpikir secara filosifis, obyektif dan kritis. Apa yang telah dilakukan
oleh peradaban modern itu untuk manusia? Apa yang dapat dilakukannya untuk mengubah
manusia dan mengarahkannya menuju sasaran-sasaran yang agung dan mulia, agar
manusia memiliki hati yang suci ketika menghadap kepada Tuhannya? Bukankan
peradaban modern sampai saat ini, kerjanya hanya mengeksploitasi kekayaan alam,
meningkatkan produksi barang-barang baru, lalu sibuk berebut lahan
pemasarannya? Sementara manusia menjadi buta akan jati dirinya, melainkan
keberadaannya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, yang tujuan hidupnya adalah
beribadah kepada-Nya.
Dari fenomena pelecehan
nilai-nilai agama seperti yang diuraikan di atas barangkali dapat dianalisa,
bahwa arus modernisasi dengan pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi yang kian
melanda semua aspek kehidupan manusia ini harus diimbangi oleh kesedihan
manusia sendiri untuk membentengi jiwa dan rohaninya, melalui keimanan dan
pengamalan agama, serta berpegang teguh pada nilai-nilai luhur ajarannya.
Memang, dari sudut
pengamatan lain tampak juga, bahwa di tengah-tengah peradaban modern yang
sekuler ini ternyata muncul pula kebangkitan kehidupan beragama di kalangan
umat manusia dari seluruh penjuru dunia. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya
ekspresi-ekspresi keagamaan diperbagai negeri muslim. Apabila bagi sebagian
umat Islam di kalangan masyarakat kita, fenomena kesemarakan dan kegairahan
beragama itu sering kali dijadikan rujukan paling nyata untuk bersikap optimis
dalam menatap masa depan yang lebih baik.
Apalagi ada suatu
kenyataan yang seakan-akan di luar dugaan masyarakat muslim pada umumnya, yaitu
zaman modern ini ternyata juga mampu melahirkan perilaku kesufian dari kalangan
orang-orang profesional, seperti para pengusaha, bisnisman, cendekiawan,
intelektual, teknologi dan sebagainya, yang meskipun hidup mereka terlalu sibuk
dengan urusan dunia tapi mereka juga tekun dalam pengalaman rohaniah. Cara
hidup beragama mereka cenderung menanamkan sikap positif kepada dunia dan
menekankan pada pengamalan batiniah. Bahkan mereka mampu menghayati
hikmah-hikmah ajaran agama secara mendalam, tanpa bersikap mengucilkan diri dari aktivitas
sosal kemasyarakat. Terbukti kebanyakan mereka rajin menjalankan salat tahajud
dan selalu tanggap terhadap panggilan hidup.
Demikian keunikan zaman
ini, sehingga sering terlihat pemandangan yang amat mengesankan dan seakan-akan
kontradiktif, yaitu banyaknya kaum profesional yang suka wiridan, melakukan
zikir dan selalu pasrah kepada Allah SWT, dengan memutar-mutar butiran tasbih,
atau membaca Al-Qur'an di mobil disepanjang jalan atau di kantor, perusahaan,
juga di sela-sela kesibukannya mengurus bisnis, bahkan saat mereka berada di
tengah-tengah hiruk piuknya pertemuan. Mereka tak pernah berhenti mengingati
asma Allah SWT, terus menyibukkan diri dalam zikrullah sambil menjalankan
tugas-tugas profesinya.
Tak mudah memang
menjadi orang yang sedemikian tinggi kualitas iman dan takwanya, sebagai seorang profesional tapi hidupnya terus
menerus berzikir, sambil tak henti-hentinya memikirkan kegiatan profesi
duniawi. Mereka adalah orang-orang kaya dan berkuasa, tetapi kekayaan dan
kekuasaannya bukan dijadikan pemuas nafsu dan kenikmatan pribadinya. Hati
nurani mereka selalu terpanggil untuk membangun masyarakat, seperti membantu
kaum lemah, orang sakit dan fakir miskin, serta berjuang untuk membebaskan umat
dari belenggu ketidak adilan, kebodohan, dan keterbelakangan.
Bukankah mereka itu
teramat pantas bila digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang oleh
Al-Qur'an dijuluko sebagai pribadi-pribadi Ulul Albab, yaitu orang-orang
yang tercerahkan akal pikiran dan hati nuraninya? Sebab, bukankah Allah SWT
telah menunjukkan ciri-ciri kelompok instimewa ini melalui firman-Nya:
Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami
dari siksa neraka”. (QS. Ali-Imron:
190-191)
Dalam memahami ayat di
atas perlu dimengerti, bahwa zikir yang dilakukan kelompok Ulul Albab, yakni
orang-orang yang tercerahkan akal pikirannya itu, bukan sekedar zikir secara
lisan, atau zikir dengan hati, tetapi mereka lakukan dari segala segi yang
dapat mendatangkan nilai ibadah kepada Allah SWT. Dengan kata lain, disamping
mereka melaksanakan zikir melalui ibadah mahdhah, juga melaksanakan akivitas
kehidupan dalam segala lapangan. Bahkan sebagian besar zikir mereka dilakukan
melalui ibadah berupa amal sosial di semua aspek kehidupan. Mereka senantiasa
berzikir kepada Allah SWT melalui sikap yang konsisten untuk menjalankan
perinta-perintah yang diwajibkan oleh Allah SWT. Misalnya ada perintah dari
Allah SWT:
Artinya : “Berangkatlah
kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan
harta dan dirimu di jalan Allah”.
(QS. At-Taubah: 41)
Maka mereka pun
berzikir dan beribadah dalam bentuk menunaikan jihad fisabilillah, yakni
menjadikan segala aktivitas hidup dan harta kekayaannya untuk memperjuangkan
tegaknya agama Allah SWT.
Dan jika perintah itu
adalah:
Artinya : “Peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS Tahrim: 6)
Maka mereka berzikir
dan beribadah kepada Allah SWT dengan melaksanakan pendidikan terhadap istri,
anak, dan seluruh anggota keluarga sesuai dengan jalan yang ditunjukkan Allah
SWT, serta membatasi tingkah laku mereka dengan aturan-aturan agama Allah SWT.
Kemudian bila perintah
itu berupa perintah mencari rizki sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya : “Maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung”.
(QS Al-Jumuah: 10)
Maka zikir dan ibadah
mereka pun dengan bekerja keras, mencari mata pencharian disegala penjuru dunia
untuk mendapatkan rizki Allah SWT dengan etos kerja yang tinggi dan mematuhi
hukum halal dan haram, serta etika muamalah yang telah ditetapkan Allah SWT.
Sebab, mereka yakin benar akan adanya hisab di hadapan Allah SWT atas
kejahatan, kecurangan, kelicikan, kebohongan, kezaliman, dan cara-cara
manipulasi dagang yang pernah mereka lakukan.
Demikian pula jika
perintah itu berupa perintah kewajiban mencari ilmu pengetahuan, maka zikir dan
ibadah mereka pun dengan jalan menuntut ilmu setinggi-tingginya. Baik ilmu itu
ilmu agama, agar manusia mengetahui halal, haram, mubah, makruh, dan mandub,
maupun ilmu-ilmu sains dan teknologi untuk membudidayakan kekayaan yang
dikandung oleh bumi dan alam semesta ini.
Jadi, cara zikir orang-orang yang termasuk golongan Ulul Albab tidak cukup
hanya memutar-mutar tasbih, lebih-lebih disertai dengan sikap menjauhkan diri
dari realitas sosial dan melupakan kehidupan dunia semata-mata untuk sepenuhnya
berkhalwat kepada Allah SWT. Sama sekali tidak. Golongan Ulul
Albab tidak aakn mengartikan zikir sesempit itu. Mereka benar-benar memahami
zikir sebagai manfestasi ibadah yang harus dilakukan secara seimbang antara
ibadah hablun minallah dan hablun minanas. Jadi, mereka memahami dan menghayati
makna ibadah dengan pengertian yang sebenar-benarnya secara universal. Di mana
dengan pengalaman ibadah yang bisa meliputi dimensi akhirat dan dunia secara
universal itulah, maka tujuan hidup manusia yang hakiki, yaitu beribadah, telah
dijalani dengan sebaik-baiknya.
Demikianlah sebuah
gambaran tentang kedalaman iman dan takwa sebagian cendekiawan dan kelompok
profesional yang tergolong Ulul Albab, serta komitmen mereka sebagai pejuang di
tengah-tengah gelombang modernitas zmana. Akhirnya, sebagai penutup khorbah,
marilah kita berupaya meneladani perjuangan para pendahulu kita, orang-orang
saleh, para syuhada, dan Ulul Albab, sesuai dengan profesi dan lapangan kerja
kita masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar