Kamis, 03 April 2014

FADLILLAH BULAN RAJAB


Bertaqwalah kepada Allah SWT; taqwa dalam arti memelihara diri dari segala bentuk kemusyrikan dan kemunafikan yakni dengan mentaati dan mengerjakan semua perintah serta meninggalkan larangan-larangannya.
Juga taqwa yang dapat menumbuhkan amal-amal shaleh yang nyata sebagai pembuktian kebenaran iman sebab segala perbuatan dan amal manusia, baik atau jahatnya merupakan pencerminan imannya terhadap Allah SWT.
Hidup kita adalah berbilang hari, bulan dan tahun. Semua itu telah diatur Allah, silih bergantu.
Allah SWT telah berfirman:

Artinya  : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram”. (QS. At-Taubah: 36)

Dari ayat tersebut kita memperoleh pengertian bahwa dia antara waktu-waktu yang telah diatur Allah, terdapat waktu yang mulia; satu diantaranya ialah bulan Rajab.
Sesungguhnya berbahagia karena kita  dapat memasuki bulan yang bersejarah ini, yang tidak mungkin dilupakan oleh segeanp kaum muslimin.
Marilah kita lebih mensyukuri nikmat Allah, sebab dengan datangnya bulan rajab ini kita ingat kembali betapa Rasulullah SAW diangkat ke hadirat Allah untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Sungguh tinggi nilai shalat dibanding perinta-perintah yang lain, seperti zakat, puasa, dan haji.
Sebab itulah kita wajib menyadari pentingnya ibadah shalat dengan melaksanakan secara ikhlas dan khusyu’ sebagai bukti taqwa kita. Ketinggian nilai shalat inilah yang menempatkan sebagai sendi agama.
Rasulullah SAW bersabda:
الصلاة عماد الدين فمن اقامها فقد اقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين. رواه البيهقى
Artinya  : “Shalat (lima waktu) adalah tiang agama. Barangsiapa yang menegakkannya berarti ia telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkannya berarti ia telah merobohkan agama”. (HR. Baihaqi)

Sebagai kaum muslim senantiasa mengharap rahmat dan fadillah dari Allah.
Untuk itu kita harus meningkatkan amal shaleh, memperbanyak ibadah terutama dalam bulan-bulan mulia.
Didalam bulan mulia, terutama bulan Rajab itulah segala amal akan memperoleh pahala yang berlipat ganda, dan Allah menyediakan surga (kehidupan yang bahagia) bagi orang-orang yang berbuat kebajikan dan beribadah.
Rasulullah SAW bersabda:
ان فى الجنة نهرا يقال له رجب اشدبياضا من اللبن واحلى من العسل من صام يوما من رجب سقاه الله من لك النهر.
Artinya  : “Di dalam surga terdapat sebuah bengawan yang disebut bengawan Rajab; airnya lebih putih dari pada susu dan rasanya lebih manis dari pada madu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab maka kelak alah akan memberi minum kepadanya dari air bengawan itu

Bulan Rajab adalah yang penuh maghfiroh; segala kebaikan akan memperoleh pahala berlipat ganda. Segala ampunan akan diterima dan segala kemaksiatan harus lebih dijauhi.
Allah SWT berfirman:

Artinya  : “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar”. (QS. Al-Baqarah: 217)

Rasulullah SAW bersabda:
انيبوا الى ربكم واستغفروا من نوبكم واجتنبوا المعاصى فى شهر الحرام
Artinya  : “Kembalilah engkau kepada Tuhanmu, mohonlah ampunan dari segala dosamu dan jauhilah segala kemaksiatan dalam bulan haram

Dari ayat dan hadits diatas nyatalah bahwasannya dalam bulan Rajab ini kita dianjurkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan amal shaleh dan memperbanyak ibadah.
Kita gunakan bulan Rajab untuk mencari bekal akhirat dengan tidak melupakan kemaslahatan hidup dunia.
Kita ramaikan peringatan-peringatan rajabiyah dengan itikad untuk menghormati kemuliaan bulan Rajab dan dengan tujuan mengambil hikmah yang terkadnung dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi dibulan itu yaitu Isro’ Mi’rah Nabi kita Muhammad SAW.
Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita wajib menanamkan kesadaran kepada anak cucu, agar mereka dapat menghormati bulan mulia ini, melatih mereka untuk meningkatkan amal shaleh dan mengajak mereka untuk mengikuti penerangan-penerangan para ulama’ dan mubaligh tentang hikmah yang terdapat dalam bulan Rajab sehingga menambah gairah meningkatkan amalia ubudiyah seperti puasa-puasa sunnat dan lain-lainnya.
Sesungguhnya kita bertanggung jawab terhadap baik buruknya pendidikan anak-anak kita. Karena itu kita semua berkewajiban mendidik anak-anak kita masih-masing, agar menjadi anak-anak yang shaleh.
Mendidik memang harus disesuaikan cita-cita orang tua sebab orang tua merupakan lembaga pendidikan yang primer. Sudah barang tentu dalam mencapai cita-cita ini, orang tua harus berusaha mempengaruhi anak dalam perkembangannya sehari-hari. Orang tua sebagai pendidik, harus bergaul dengan anak, mengontrol agar perkembangan itu selalu mengarah kepada yang baik-baik saja.
Rasulullah SAW bersabda:
كل مولود يولد على الفطرة فابواه يهودا نه او ينصرا نه او يمجسانه.
Artinya  : “setiap kelahiran (anak yang dilahirkan) dilahirkan dalam keadaan suci. Hanya kedua orangtuanalah yang mencetak anak itu menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau menjadi Majusi.

Pendidikan adalah urusan yang paling utama dan alat yang amat penting bagi suatu bangsa. Dengan mendidik suatu bangsa mengembangkan kesadaran dirinya, melalui kesadaran pribadi yang mendukungnya.
Pendidikan merupakan persiapan bagi generasi muda, dalam kecakapan dan dalam membuat mereka menyadari tugas serta kewajiban hidup mereka.
Mulai pendidikan, suatu bangsa menyalurkan warisan kultural dan intelektualnya, kepada generasi pengganti. Lewat pendidikan, kebudayaan mengabdikan dirinya. Pendidikan adalah suatu proses yang terus bersambung. Dengan proses itu, latihan mental, pisik dan moral diberikan yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berguna, cakap melaksanakan tugas dan kewajiban mereka sebagai manusia dan warga negara yang baik. Pendidikan adalah pembentukan sifat baik, dengan cara menanamkan kebiasaan atau penghayatan yang bahwa kepada sifat atau kesadaran tertentu, yaitu dengan menyuruh dan menggerakkan untuk mengerjakan perbuatan tertentu berulang kali, sehingga menjadi kebiasaan. Kebiasaan itulah yang membentuk sifat. Dan kebulatan dari sifat-sifat membentuk kepribadian.
Oleh karena itu, saudara-saudara sekalian! Rasulullah SAW
مروا الصبي بالصلاة اذا بلغ سبع سنين واذا بلغ عشر سنين فاضر بوه عليها.
Artinya  : “Perintahkanlah anak melakukan shalat, apabila telah mencapai usia tujuh tahun. Kalau sudah berumur sepuluh tahun, sedangkan anak itu tidak melaksanakan perinta, maka pukullah dia
يا ايها الذين امنو عليكم انفسكم لايضركم من ضل اذا اهتديتم الى الله مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم تعلمون.
Artinya:  “Wahai orang-ornag yang beriman! Perhatikanlah diri kalian. Seandainya orang lain bertindak sesat, maka tidakannya itu tidak akan merugikan diri kalia, kalian mau mengambil petunjuk Allah. Kalian pasti akan kembali menghadap ke pengadilan Allah, dimana Allah bakal membeberkan kepada kalian tentang apa yang sudah kalian perbuat di dunia ini”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar