Senin, 18 November 2013

FADILLAH BULAN SYA’BAN DAN NIFSU SYA’BAN

Bertaqwalah kepada Allah, taqwa dalam arti memelihara diri dari segala bentuk kemusyrikan dan kemunafikan yakni dengan mentaati dan mengerjakan semua perintah serta meninggalkan larangan-larangannya.
Juga taqwa yang dapat menumbuhkan amal-amal shaleh yang nyata sebagai pembuktian kebenaran iman, sebab segala perbuatan dan iman manusia, baik atau jahatnya merupakan pencerminan imannya terhadap Allah.
Hidup kita adalah berbilang hari, bulan dan tahun. Semua itu telah diatur Allah, silih berganti.
Allah berfirman:


Artinya  : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram”. (QS. At-Taubah: 36)

Dari ayat tersebut kita memperoleh peringatan bahwa diantara waktu-waktu yang telah diatur Allah, terdapat waktu-waktu yang mulia satu diantaranya adalah bulan Sya’ban. Sungguh berbahagia, karena kita dapat memasuki bulan yang bersejarah ini, mungkin dilupakan oleh segera kaum muslimin.
Marilah kita lebih mensyukuri nikmat Allah, sebab dengan datangnya bulan Sya’ban ini kita ingin kembali riwayat dari Yahya bin Mu’adz, bahwa dia berkata: Sesungguhnya didalam kata Sya’ban terdapat lima huruf, dimana dengan setiap hurufnya kaum mu’minin akan diberi suatu pemberian: dengan syiin akan diberi Syaraf (kehormatan) dan Syafa’at, dan dengan ‘Ain akan diberi ‘Izzah (keperkasaan) dan kekaramat (kemuliaan), dan dengan Baa’ akan diberi Biir (kebaikan), dan dengan Alif akan diberi Ulfah (cahaya), dan oleh karenanya dikatakan: Bulan Rajab ialah untuk mensucikan hati dan bulan Ramadhan ialah untuk mensucikan ruh. Sesungguhnya orang yang mensucikan badannya pada bulan Raja maka dia akan mensucikan hatinya pada bulan Sya’ban, dan orang yang mensucikan hatinya pada bulan Sya’ban akan mensucikan ruhnya pada bulan Ramadhan, maka jika dia tidak mensucikan badannya pada bulan Rajab dan hatinya pada bulan Sya’ban, kapankah dia akan mensucikan ruhnya pada bulan Ramadhan?. Dan oleh karenanya berkata seorang ahli hikmat: “Sesungguhnya bulan Rajab untuk memohon ampun dari segala doa, dan bulan Sya’ban untuk memperbaiki hati dari segala cacat, dan bulan Ramadhan untuk memberi penerangan hati, sedang malam Qadar adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Rasulullah SAW bersabda:
من صام ثلاثة ايام من اول شعبان وثلاثة من اوسطه وثلاثة من اخيره كتب الله له ثواب سبعين نبيا وكان كمن عبد الله تعالى سبعين عاما وان مات فى تلك السنة مات شهيدا.
Artinya  : “Barangsiapa berpuasa tiga hari pada awal bulan Sya’ban dan tiga hari pada tengahnya, dan tiga hari pada akhirnya, maka Allah akan menuliskan baginya padahal dati tujuh puluh orang Nabi, dan adalah seperti orang beribadah kepada Allah selama tujuh puluh tahun, dan jika dia mati pada tahun itu dia mati sebagai pahlawan syahid”.

Dan dalam hadits lain Nabi bersabda:
من عظم شعبان واتقى الله تعالى وعمل بطا عته وامسك عن المعصية غفر الله تعالى ذنوبه وامنه من كل ما يكون فى تلك السنة من اللبلايا والامراض كلها.
Artinya  : “Barangsiapa mengagungkan Bulan Sya’ban dan bertaqwa kepada Allah dan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menahan diri dari berbuat maksiat, maka Allah mengampuni dosa-dosany, dan memberi keamanan kepadanya dari kemalangan maupun penyakit-penyakit yang terjadi pada tahun itu seluruhnya”.

Sebagai muslim kita senantiasa mengharap rahmat dan fadillah dari Allah.Untuk itu kita harus meningkatkan amal shaleh, memperbanyak ibadah terutama pada bulan-bulan mulia.
Di dalam bulan mulia, terutama bulan Sya’ban itulah segala amal akan memperoleh pahala yang berlipat ganda, dan orang yang menghidupkan malam pertengahan dari bulan Sya’ban maka hatinya takkan mati manakala hati-hati (orang lain) pada mati.
Rasululah bersabda:
من احيا ليلة العيدين وليلة النصف من شعبان لم يمت قلبه حين تموت القلوب.
Artinya  : “Barangsiapa menghidupkan malam dari pada dua hari-raya dan malam pertengahan dari bulan Sya’ban, maka hatinya takkan mati manakala hati-hati (orang lain) pada mati”.

Rasulullah SAW bersabda:
فضل شعبان على سائر الشهور كفضلى على سائر الانبياء وفضل رمضان على سائر الشهور كفضل الله تعالى على عباده.
Artinya  : “Keutamaan bulan Sya’ban atas bulan-bulan yang lain adalah sebagaimana keutamaanku atas sekalian para Nabi, sedang keutamaan bulan Ramadhan atas bulan-bulan yang lain ialah sebagaimana keutamaan Allah Ta’ala atas sekalian hamba-hamba-Nya”.

Dari hadits-hadits di atas nyatalah bahwasannya dalam bulan Sya’ban ini kita dianjurkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan amal shaleh dan memperbanyak ibadah.
Kita gunakan bulan sya’ban untuk mencari bekal akhirat dengan tidak melupakan kemaslahatan hidup dunia. Kita ramaikan (agungkan) malam nisfu sya’ban dengan membaca surat Yasin sesudah maghrib dan berdoa dengan do’a yang masyhur.
Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita wajib menanamkan kesadaran pada anak cucu, agar mereka dapat menghormati bulan mulia ini, melatih mereka untuk meningkatkan amal saleh dan mengajak mereka untuk mengikuti penerangan-penerangan para ’Ulama dan Mubaligh tentang keutamaan bulan Sya’ban sehingga menambah gairah meningkatkan amaliyah ubudiyah seperti puasa- puasa sunnat dan lain-lainya.
Sungguh kita bertanggung jawab terhadap baik buruknya pendidikan anak kita. Karena itu, betapa kecewa hati kita apabila melihat kenyataan pahit, dimana anak-anak sudah tidak mengenal agama, pergaulan mereka telah bebas, perbuatan mereka telah jauh menyimpang dari tuntunan Illahi.
Suatu kenyataan saat-saat sekarang telah banyak timbul gejala kemerosotan akhlq generasi muda, yang pada prinsipnya ialah karena mereka tidak mengenal peraturan-peraturan Allah atau karena tidak adanya pengertian yang diberikan oleh orang-orang tuanya, sehingga sikap dan tindakan serta laku perbuatan mereka menjadi liar : sudah barang  tentu jika keadaan yang demikian generasi mendatang akan diliputi kabut kegelapan, bahkan kelemahan yang akhirnya hancur dan larut bersama nafsu syaithaniyyah. Na’udzu billahi nim dzalik.
Allah SWT, telah memberi peringatan kepada kita selaku orang tua, agar hendaknya kita merasa prihatin jika melihat anak turun yang lemah, sebagai firman-Nya :


Artinya : Hendaklah mereka takut jangan sampai meninggalkan anak keturunan yang di belakangnya, dikuatirkan akan sengsara, sebab itu hendaklah mereka patuh kepada Allah dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang betul. ( an Nissa’: 9)

Ayat  ini merupakan peringatan dari Allah kepada kita tentang apa dan bagaimana semestinya kita berbuat untuk keselamatan anak keturunan dimasa depan ; dari ayat ini pulalah kita dapat mengambil pengertian yang luas, behwasanya kelemahan anak-anak tidak hanya dilihat dari segi jasmani ( physik) semata-mata, tetapi yang lebih memprihatinkan ialah kelemahan aqidah mereka.
Oleh sebab itu melalui mimbar ini sekali lagi kami ajak saudara-saudara untuk lebih meningkatkan pendidikan Agama kepada anak-anak kita, dengan tidak melupakan pendidikan ilmu-ilmu lain yang berguna bagi kehidupan mereka di masa mendatang.
Marilah   kita salurkan ketempat-tempat pendidikan Agama, kita ajak dan kita perintahkan mereka mendatangi pengajian-pengajan, agar jiwa keagamaan semakin meresap dalam hati sanubarinya.
Dengan cara inilah kita mengharapkan kenikmatan Allah tetap curahkan kepada anak keturunan dimasa-masa mendatang, dan terindahlah mereka dari bencana dan siksa Allah.
Akhirnya marilah kita senantiasa memohon kepada Allah, agar limpahan rahmat karunia-Nya tetap kita rasakan dan juga bagi anak-anak kita, sehingga kebaikan-kebaikan jualah yang kita peroleh dunia akhirat, dan terpeliharalah kita dari siksaan api neraka.
ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار.
Artinya  : “(Ya Allah) Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hidarkanlah kami dari siksaan api neraka”.


Artinya  : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. (QS. Ibrahim: 35)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar