Bertaqwalah
kepada Allah, taqwa dalam arti memelihara diri dari segala bentuk kemusyrikan
dan kemunafikan yakni dengan mentaati dan mengerjakan semua perintah serta
meninggalkan larangan-larangannya.
Juga
taqwa yang dapat menumbuhkan amal-amal shaleh yang nyata sebagai pembuktian
kebenaran iman, sebab segala perbuatan dan iman manusia, baik atau jahatnya
merupakan pencerminan imannya terhadap Allah.
Hidup
kita adalah berbilang hari, bulan dan tahun. Semua itu telah diatur Allah,
silih berganti.
Allah
berfirman:
Artinya : “Sesungguhnya
bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di
waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram”. (QS.
At-Taubah: 36)
Dari
ayat tersebut kita memperoleh peringatan bahwa diantara waktu-waktu yang telah
diatur Allah, terdapat waktu-waktu yang mulia satu diantaranya adalah bulan
Sya’ban. Sungguh berbahagia, karena kita dapat memasuki bulan yang bersejarah
ini, mungkin dilupakan oleh segera kaum muslimin.
Marilah
kita lebih mensyukuri nikmat Allah, sebab dengan datangnya bulan Sya’ban ini
kita ingin kembali riwayat dari Yahya bin Mu’adz, bahwa dia berkata:
Sesungguhnya didalam kata Sya’ban terdapat lima huruf, dimana dengan setiap
hurufnya kaum mu’minin akan diberi suatu pemberian: dengan syiin akan diberi
Syaraf (kehormatan) dan Syafa’at, dan dengan ‘Ain akan diberi ‘Izzah
(keperkasaan) dan kekaramat (kemuliaan), dan dengan Baa’ akan diberi Biir
(kebaikan), dan dengan Alif akan diberi Ulfah (cahaya), dan oleh karenanya
dikatakan: Bulan Rajab ialah untuk mensucikan hati dan bulan Ramadhan ialah
untuk mensucikan ruh. Sesungguhnya orang yang mensucikan badannya pada bulan
Raja maka dia akan mensucikan hatinya pada bulan Sya’ban, dan orang yang
mensucikan hatinya pada bulan Sya’ban akan mensucikan ruhnya pada bulan
Ramadhan, maka jika dia tidak mensucikan badannya pada bulan Rajab dan hatinya
pada bulan Sya’ban, kapankah dia akan mensucikan ruhnya pada bulan Ramadhan?.
Dan oleh karenanya berkata seorang ahli hikmat: “Sesungguhnya bulan Rajab untuk
memohon ampun dari segala doa, dan bulan Sya’ban untuk memperbaiki hati dari
segala cacat, dan bulan Ramadhan untuk memberi penerangan hati, sedang malam
Qadar adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Rasulullah
SAW bersabda:
من
صام ثلاثة ايام من اول شعبان وثلاثة من اوسطه وثلاثة من اخيره كتب الله له ثواب
سبعين نبيا وكان كمن عبد الله تعالى سبعين عاما وان مات فى تلك السنة مات شهيدا.
Artinya : “Barangsiapa
berpuasa tiga hari pada awal bulan Sya’ban dan tiga hari pada tengahnya, dan
tiga hari pada akhirnya, maka Allah akan menuliskan baginya padahal dati tujuh
puluh orang Nabi, dan adalah seperti orang beribadah kepada Allah selama tujuh
puluh tahun, dan jika dia mati pada tahun itu dia mati sebagai pahlawan
syahid”.
Dan
dalam hadits lain Nabi bersabda:
من
عظم شعبان واتقى الله تعالى وعمل بطا عته وامسك عن المعصية غفر الله تعالى ذنوبه
وامنه من كل ما يكون فى تلك السنة من اللبلايا والامراض كلها.
Artinya : “Barangsiapa
mengagungkan Bulan Sya’ban dan bertaqwa kepada Allah dan melakukan ketaatan
kepada-Nya dan menahan diri dari berbuat maksiat, maka Allah mengampuni
dosa-dosany, dan memberi keamanan kepadanya dari kemalangan maupun
penyakit-penyakit yang terjadi pada tahun itu seluruhnya”.
Sebagai
muslim kita senantiasa mengharap rahmat dan fadillah dari Allah.Untuk itu kita
harus meningkatkan amal shaleh, memperbanyak ibadah terutama pada bulan-bulan
mulia.
Di
dalam bulan mulia, terutama bulan Sya’ban itulah segala amal akan memperoleh
pahala yang berlipat ganda, dan orang yang menghidupkan malam pertengahan dari
bulan Sya’ban maka hatinya takkan mati manakala hati-hati (orang lain) pada
mati.
Rasululah
bersabda:
من
احيا ليلة العيدين وليلة النصف من شعبان لم يمت قلبه حين تموت القلوب.
Artinya : “Barangsiapa
menghidupkan malam dari pada dua hari-raya dan malam pertengahan dari bulan
Sya’ban, maka hatinya takkan mati manakala hati-hati (orang lain) pada mati”.
Rasulullah
SAW bersabda:
فضل
شعبان على سائر الشهور كفضلى على سائر الانبياء وفضل رمضان على سائر الشهور كفضل
الله تعالى على عباده.
Artinya : “Keutamaan
bulan Sya’ban atas bulan-bulan yang lain adalah sebagaimana keutamaanku atas
sekalian para Nabi, sedang keutamaan bulan Ramadhan atas bulan-bulan yang lain
ialah sebagaimana keutamaan Allah Ta’ala atas sekalian hamba-hamba-Nya”.
Dari
hadits-hadits di atas nyatalah bahwasannya dalam bulan Sya’ban ini kita
dianjurkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan amal
shaleh dan memperbanyak ibadah.
Kita
gunakan bulan sya’ban untuk mencari bekal akhirat dengan tidak melupakan
kemaslahatan hidup dunia. Kita ramaikan (agungkan) malam nisfu sya’ban dengan
membaca surat Yasin sesudah maghrib dan berdoa dengan do’a yang masyhur.
Oleh
sebab itu, sebagai orang tua kita wajib menanamkan kesadaran pada anak cucu,
agar mereka dapat menghormati bulan mulia ini, melatih mereka untuk
meningkatkan amal saleh dan mengajak mereka untuk mengikuti
penerangan-penerangan para ’Ulama dan Mubaligh tentang keutamaan bulan Sya’ban
sehingga menambah gairah meningkatkan amaliyah ubudiyah seperti puasa- puasa
sunnat dan lain-lainya.
Sungguh
kita bertanggung jawab terhadap baik buruknya pendidikan anak kita. Karena itu,
betapa kecewa hati kita apabila melihat kenyataan pahit, dimana anak-anak sudah
tidak mengenal agama, pergaulan mereka telah bebas, perbuatan mereka telah jauh
menyimpang dari tuntunan Illahi.
Suatu
kenyataan saat-saat sekarang telah banyak timbul gejala kemerosotan akhlq
generasi muda, yang pada prinsipnya ialah karena mereka tidak mengenal
peraturan-peraturan Allah atau karena tidak adanya pengertian yang diberikan
oleh orang-orang tuanya, sehingga sikap dan tindakan serta laku perbuatan mereka
menjadi liar : sudah barang tentu jika
keadaan yang demikian generasi mendatang akan diliputi kabut kegelapan, bahkan
kelemahan yang akhirnya hancur dan larut bersama nafsu syaithaniyyah. Na’udzu
billahi nim dzalik.
Allah
SWT, telah memberi peringatan kepada kita selaku orang tua, agar hendaknya kita
merasa prihatin jika melihat anak turun yang lemah, sebagai firman-Nya :
Artinya : “Hendaklah mereka takut jangan sampai meninggalkan anak keturunan
yang di belakangnya, dikuatirkan akan sengsara, sebab itu hendaklah mereka
patuh kepada Allah dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang betul. ( an Nissa’: 9)
Ayat
ini merupakan peringatan dari Allah
kepada kita tentang apa dan bagaimana semestinya kita berbuat untuk keselamatan
anak keturunan dimasa depan ; dari ayat ini pulalah kita dapat mengambil
pengertian yang luas, behwasanya kelemahan anak-anak tidak hanya dilihat dari
segi jasmani ( physik) semata-mata, tetapi yang lebih memprihatinkan ialah
kelemahan aqidah mereka.
Oleh
sebab itu melalui mimbar ini sekali lagi kami ajak saudara-saudara untuk lebih
meningkatkan pendidikan Agama kepada anak-anak kita, dengan tidak melupakan
pendidikan ilmu-ilmu lain yang berguna bagi kehidupan mereka di masa mendatang.
Marilah kita salurkan ketempat-tempat pendidikan
Agama, kita ajak dan kita perintahkan mereka mendatangi pengajian-pengajan,
agar jiwa keagamaan semakin meresap dalam hati sanubarinya.
Dengan
cara inilah kita mengharapkan kenikmatan Allah tetap curahkan kepada anak
keturunan dimasa-masa mendatang, dan terindahlah mereka dari bencana dan siksa
Allah.
Akhirnya
marilah kita senantiasa memohon kepada Allah, agar limpahan rahmat karunia-Nya
tetap kita rasakan dan juga bagi anak-anak kita, sehingga kebaikan-kebaikan
jualah yang kita peroleh dunia akhirat, dan terpeliharalah kita dari siksaan
api neraka.
ربنا
اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار.
Artinya : “(Ya Allah) Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat serta hidarkanlah kami dari siksaan api neraka”.
Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata:
"Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan
jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. (QS.
Ibrahim: 35)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar