Bertaqwalah kalian kepada Allah, taqwa dalam arti memelihara diri dari
segala bentuk kemusyrikan dan kemunafikan yakni dengan mentaati dan mengerjakan
semua perintah serta meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Taqwa juga dapat menumbuhkan amal-amal shaleh yang nyata sebagai pembuktian
kebenaran iman, sebab segala perbuatan dan amal manusia, baik atau jahatnya
merupakan pencerminan imannya terhadap Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
انها ستكون بعدى اثرة وامور تنكرونها قالوا: يارسول الله
فما تأمرنا قال تؤدون الحق الذى عليكم وتسألون الله الذى لكم. رواه البخارى ومسلم
Artinya :
“Sesungguhnya akan terjadi sesudahku sifat mementingkan diri sendiri
(menyampingkan orang lain) dan berbagai perkalian yang kalian mengingkarinya”.
Mereka (para sahabat) berkata”. Wahai Rasulullah SAW, lantas apa yang Engkau
perintahkan pada kami?” Beliau bersabda: “Kalian tunaikan hak yang wajib atas
kalian dan kalian minta kepada Allah apa yang menjadi hak kalian”. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Hadits ini memberikan isyarat bagi kita bahwa dizaman akhir ini akan
terjadi sifat mementingkan diri sendiri dan berbagai hal mungkar yang melanda
sekalian umat manusia. Dalam keadaan seperti itu jalan terbaik untuk
menyelamatkan diri adalah menunaikan tugas kewajiban masing-masing, baik
kewajiban, terhadap Allah maupun kewajiban terhadap sesama makhluk-Nya.
Diantara sekalian sifat manusia yang tercera adalah mementingkan diri
sendiri mengabaikan kepentigan orang lain. Sifat ini dilarang dalam agama
Islam. Agama Islam bahkan menganjurkan agar setiap muslim selain harus
memperhatikan dirinya, juga kepentingan orang lain tak boleh diabaikan.
Sebagai manusia yang membutuhkann hidup berkumpul dan bermasyarakat
kesadaran untuk hidup bersama dan saling tolong menolong perlu ditanamkan.
Kesadaran ini akan menghilangkan sifat egoisme, yaitu sifat yang selalu
mementingkan diri sendiri dengan tidak memperdulikan kepentingan orang lain.
Asal dirinya sudah baik, berkecukupan, selamat dan bahagia, tak perduli dengan
nasib orang lain. Biarlah mereka berusaha sendiri, hidup sendiri, menghadapi
kesulitan sendiri. Apa perlunya kita menolong mereka, toh mereka belum tentu
membalas budi. Begitulah gambaran sekilaas, orang yang hidupnya hanya untuk
dirinya dan kepentingannya sendiri.
Terjadinya perubahan sifat dimana orang-orang hanya mementingkan dirinya
sendiri itu akibat banyaknya beban dan kesibukan yang memang mereka sengata.
Betapa tidak? Keinginan hawa nafsu yang sudah kelewatan maju itu menyebabkan
orang memaksa dirinya untuk mencapai sesuatu yang belum tarafnya. Mereka
sehari-hari sibuk bergumul dengan pekerjaan yang kelewat berat. Akibatnya
segala yang terjadi di sekitarnya mereka tidak tahu. Atau mereka sudah tahu
tetapi pura-pura tidak tahu. Mereka sudah tidak perduli apa faedahnya mengengok
orang sakit, melayat orang mati, menghadiri walimahan perkawinan, memberi
nasehat orang yang baru tertimpa bencana dan lain-lain. Itu semua dianggapnya
sudah tidak penting. Sedang yang penting adalah segala sesuatu yang dapat
memberi keuntungan bagi dirinya.
Bagi umat Islam sifat mementingkan diri sendiri itu harus dibuang jauh-jauh
dan diganti dengan sifat mulia, seperti suka tolong menolong, memberi petunjuka
kepada orang yang baru sesat iman, memberi nasehat kepada orang yang tertimpa
kemalangan dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW bersabda:
لا يؤمن احد كم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه رواه البخارى
Artinya :
“Belum sempurna iman seseorang dari kalian hingga kalian mencintai
saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya”. (HR. Bukharri)
Kalau dihubungkan dengan hadits di atas maka orang yang mempunyai sifat
mementingkan dirinya sendiri itu termasuk orang yang belum sempurna imannya.
Karena bagaimana mungkin orang bisa menaruh belas kasih kalau dia masih
mementingkan diri sendiri. Tentu saja rasa toleransinya terhadap orang
sangatlah tipis, bahkan mungkin sama sekali tidak ada.
Hadits di atas dapat memberikan pengertian kepada kita bahwa apa yang kita
senangi dari semua kebaikan yang telah kita kenyam saudara kita sesama umat
Islam. Kalau mereka belum bisa, maka tugas kita harus ikut membantunya. Arti
semua kebaikan itu meliputi kenikmatan taat kepada Allah dan perkara mudah,
baik masalah duniawi maupun masalah ukhrawi. Dengan pengertian seperti itu kita
tidak berlaku masa bodoh, acuh tak acuh terhadap sesama kita.
Bilamana ada saudara kita yang kelaparan, maka hendaklah dia bantu hingga
dapat makan dan merasakan kenyang sebagai mana yang telah kita rasakan. Bila mana
ada orang yang sakit, maka hendaklah dia ditengok dan di do’akan agar segera
sembuh. Karena kitapun akan merasa senang bilaman pada suatu saat mengalami
sakit kemudian ditengok orang lain dan di do’akan segera sembuh.
Kita merasa senang dari bahagia diberi umur panjang oleh Allah dan diberi
kekuatan untuk selalu taat kepada-Nya. Karena itu kita akan merasa kasihan bila
mana ada salah seorang teman atau saudara kita yang belum mau taat kepada-Nya.
Sehingga kewajiban kita kepada mereka itu memberi nasehat dan petunjuk agar
menggunakan umurnya untuk taat kepada Allah. Legalah hati kita bilamana melihat
keadaan teman atau saudara-saudara kita yang selalu aktif taat kepada-Nya.
Allah berfirman:
tbqãZÏB÷sßJø9$#ur
àM»oYÏB÷sßJø9$#ur
öNßgàÒ÷èt/
âä!$uÏ9÷rr&
<Ù÷èt/
4
crâßDù't
Å$rã÷èyJø9$$Î/
tböqyg÷Ztur
Ç`tã
Ìs3ZßJø9$#
cqßJÉ)ãur
no4qn=¢Á9$#
cqè?÷sãur
no4qx.¨9$#
cqãèÏÜãur
©!$#
ÿ¼ã&s!qßuur
4
y7Í´¯»s9'ré&
ãNßgçHxq÷zy
ª!$#
3
¨bÎ)
©!$#
îÍtã
ÒOÅ3ym
Artinya : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan,
sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka
menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan
shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu
akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 71)
Saudara-saudara yang beriman.
Dalam kemelutnya orang-orang yang senantiasa mementingkan diri sendiri dan
merajalelakan kemungkaran di zaman akhir ini tak ada jalan yang lebih selamat
kecuali harus menunaikan tugas kewajiban masing-masing sebagai hamba Allah
baik.
Artinya: Tekun
menunaikan hak kewajiban kepada Allah dan terhadap makhluk-Nya. Semua perintah
Allah tidak dilalaikan meskipun dalam keadaan bagaimana juga.
Tetapi agaknya sukar melaksanakan tugas-tugas kewajiban, menyebabkann
lunturnya keteguhan hati secara perlahan-lahan. Dalam suasana seperti itu orang
harus berhati-hati memilih teman bergaul atau kalau perlu hijrah
ketempat-tempat yang dianggap aman, sehingga ia benar-benar menjalankan ibadah
dengan tekun, tenang dan khusyu’.
Rasulullah SAW, pernah bertanya mengenai manusia yang paling utama. Maka
Beliau menjawab:
مؤمن مجاهد بنفسه وما له فى سبيل الله قال ثم من قال رجل
معتزل فى شعب من الشعاب يعبد ربه. متفق
عليه
Artinya :
“Orang mukimin yang berjuang dengan jiwa raga dan hartanya di dalam
sabilillah. Sahabat bertanya: “Kemudian siapa?” Beliau bersabda: “Kemudian
orang yang menyendiri di suatu dusun, yang beribadah kepada Tuhannya”. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Bagi orang yang dapat menunaikan tugas dan kewajibannya, baik terhadap
Allah maupun terhadap sesama makhluk-Nya. Maka dia berhak memohon kepada Allah
akan bagian amalnya.
Artinya
: “Dia berhak mengharap rahmat-Nya. Dan Allah pasti membela
haknya baik di dunia atau di akhirat”.
Allah berfirman:
اعو بالله من الشيطان الرجيم
$¨Br&ur
úïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
(#qè=ÏJtãur
ÏM»ysÎ=»¢Á9$#
óOÎgÏjùuqãsù
öNèduqã_é&
3
ª!$#ur
w
=Åsã
tûüÏHÍ>»©à9$#
Artinya : “Adapun orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Maka Allah akan
memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah
tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS. Ali-Imran: 57)
Semoga kita umat Islam dihindarkan dari sifat mementingkan diri sendiri dan
dijauhkan dari perbuatan mungkar, dimana hal itu akan melanda di kalangan umat
manusia yang semakin hari semakin jauh dari hidayat Allah. Isyarat Rasulullah
SAW, itu pasti benar, sehingga jauh-jauh sebelum itu terjadi kita sudah
membangun persiapan mental dengan memperkuat keteguhan iman dari berbagai godaan
yang datang bertubi-tubi dari sekeliling kita, bahkan berbuat seperti itu kita
bukan hanya dapat bertahan menyelamatkan diri sendiri, harus dapat lebih tegas
menunaikan tugas memberantas kemungkinan.
terima kasih atas tulisannya
BalasHapusJazakallah bil Khoir.... ijin menggunakan sebagai referensi nggih....
BalasHapus