Selasa, 03 September 2013

AKAN TERJADI ORANG-ORANG MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI


Bertaqwalah kalian kepada Allah, taqwa dalam arti memelihara diri dari segala bentuk kemusyrikan dan kemunafikan yakni dengan mentaati dan mengerjakan semua perintah serta meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Taqwa juga dapat menumbuhkan amal-amal shaleh yang nyata sebagai pembuktian kebenaran iman, sebab segala perbuatan dan amal manusia, baik atau jahatnya merupakan pencerminan imannya terhadap Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
انها ستكون بعدى اثرة وامور تنكرونها قالوا: يارسول الله فما تأمرنا قال تؤدون الحق الذى عليكم وتسألون الله الذى لكم. رواه البخارى ومسلم
Artinya   : “Sesungguhnya akan terjadi sesudahku sifat mementingkan diri sendiri (menyampingkan orang lain) dan berbagai perkalian yang kalian mengingkarinya”. Mereka (para sahabat) berkata”. Wahai Rasulullah SAW, lantas apa yang Engkau perintahkan pada kami?” Beliau bersabda: “Kalian tunaikan hak yang wajib atas kalian dan kalian minta kepada Allah apa yang menjadi hak kalian”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan isyarat bagi kita bahwa dizaman akhir ini akan terjadi sifat mementingkan diri sendiri dan berbagai hal mungkar yang melanda sekalian umat manusia. Dalam keadaan seperti itu jalan terbaik untuk menyelamatkan diri adalah menunaikan tugas kewajiban masing-masing, baik kewajiban, terhadap Allah maupun kewajiban terhadap sesama makhluk-Nya.
Diantara sekalian sifat manusia yang tercera adalah mementingkan diri sendiri mengabaikan kepentigan orang lain. Sifat ini dilarang dalam agama Islam. Agama Islam bahkan menganjurkan agar setiap muslim selain harus memperhatikan dirinya, juga kepentingan orang lain tak boleh diabaikan.
Sebagai manusia yang membutuhkann hidup berkumpul dan bermasyarakat kesadaran untuk hidup bersama dan saling tolong menolong perlu ditanamkan. Kesadaran ini akan menghilangkan sifat egoisme, yaitu sifat yang selalu mementingkan diri sendiri dengan tidak memperdulikan kepentingan orang lain. Asal dirinya sudah baik, berkecukupan, selamat dan bahagia, tak perduli dengan nasib orang lain. Biarlah mereka berusaha sendiri, hidup sendiri, menghadapi kesulitan sendiri. Apa perlunya kita menolong mereka, toh mereka belum tentu membalas budi. Begitulah gambaran sekilaas, orang yang hidupnya hanya untuk dirinya dan kepentingannya sendiri.
Terjadinya perubahan sifat dimana orang-orang hanya mementingkan dirinya sendiri itu akibat banyaknya beban dan kesibukan yang memang mereka sengata. Betapa tidak? Keinginan hawa nafsu yang sudah kelewatan maju itu menyebabkan orang memaksa dirinya untuk mencapai sesuatu yang belum tarafnya. Mereka sehari-hari sibuk bergumul dengan pekerjaan yang kelewat berat. Akibatnya segala yang terjadi di sekitarnya mereka tidak tahu. Atau mereka sudah tahu tetapi pura-pura tidak tahu. Mereka sudah tidak perduli apa faedahnya mengengok orang sakit, melayat orang mati, menghadiri walimahan perkawinan, memberi nasehat orang yang baru tertimpa bencana dan lain-lain. Itu semua dianggapnya sudah tidak penting. Sedang yang penting adalah segala sesuatu yang dapat memberi keuntungan bagi dirinya.
Bagi umat Islam sifat mementingkan diri sendiri itu harus dibuang jauh-jauh dan diganti dengan sifat mulia, seperti suka tolong menolong, memberi petunjuka kepada orang yang baru sesat iman, memberi nasehat kepada orang yang tertimpa kemalangan dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW bersabda:
لا يؤمن احد كم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه رواه البخارى
Artinya   : “Belum sempurna iman seseorang dari kalian hingga kalian mencintai saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya”. (HR. Bukharri)

Kalau dihubungkan dengan hadits di atas maka orang yang mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri itu termasuk orang yang belum sempurna imannya. Karena bagaimana mungkin orang bisa menaruh belas kasih kalau dia masih mementingkan diri sendiri. Tentu saja rasa toleransinya terhadap orang sangatlah tipis, bahkan mungkin sama sekali tidak ada.
Hadits di atas dapat memberikan pengertian kepada kita bahwa apa yang kita senangi dari semua kebaikan yang telah kita kenyam saudara kita sesama umat Islam. Kalau mereka belum bisa, maka tugas kita harus ikut membantunya. Arti semua kebaikan itu meliputi kenikmatan taat kepada Allah dan perkara mudah, baik masalah duniawi maupun masalah ukhrawi. Dengan pengertian seperti itu kita tidak berlaku masa bodoh, acuh tak acuh terhadap sesama kita.
Bilamana ada saudara kita yang kelaparan, maka hendaklah dia bantu hingga dapat makan dan merasakan kenyang sebagai mana yang telah kita rasakan. Bila mana ada orang yang sakit, maka hendaklah dia ditengok dan di do’akan agar segera sembuh. Karena kitapun akan merasa senang bilaman pada suatu saat mengalami sakit kemudian ditengok orang lain dan di do’akan segera sembuh.
Kita merasa senang dari bahagia diberi umur panjang oleh Allah dan diberi kekuatan untuk selalu taat kepada-Nya. Karena itu kita akan merasa kasihan bila mana ada salah seorang teman atau saudara kita yang belum mau taat kepada-Nya. Sehingga kewajiban kita kepada mereka itu memberi nasehat dan petunjuk agar menggunakan umurnya untuk taat kepada Allah. Legalah hati kita bilamana melihat keadaan teman atau saudara-saudara kita yang selalu aktif taat kepada-Nya.
Allah berfirman:
tbqãZÏB÷sßJø9$#ur àM»oYÏB÷sßJø9$#ur öNßgàÒ÷èt/ âä!$uŠÏ9÷rr& <Ù÷èt/ 4 šcrâßDù'tƒ Å$rã÷èyJø9$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# šcqßJŠÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# šcqè?÷sãƒur no4qx.¨9$# šcqãèŠÏÜãƒur ©!$# ÿ¼ã&s!qßuur 4 y7Í´¯»s9'ré& ãNßgçHxq÷Žzy ª!$# 3 ¨bÎ) ©!$# îƒÍtã ÒOŠÅ3ym 
Artinya   : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 71)

Saudara-saudara yang beriman.
Dalam kemelutnya orang-orang yang senantiasa mementingkan diri sendiri dan merajalelakan kemungkaran di zaman akhir ini tak ada jalan yang lebih selamat kecuali harus menunaikan tugas kewajiban masing-masing sebagai hamba Allah baik.
Artinya: Tekun menunaikan hak kewajiban kepada Allah dan terhadap makhluk-Nya. Semua perintah Allah tidak dilalaikan meskipun dalam keadaan bagaimana juga.
Tetapi agaknya sukar melaksanakan tugas-tugas kewajiban, menyebabkann lunturnya keteguhan hati secara perlahan-lahan. Dalam suasana seperti itu orang harus berhati-hati memilih teman bergaul atau kalau perlu hijrah ketempat-tempat yang dianggap aman, sehingga ia benar-benar menjalankan ibadah dengan tekun, tenang dan khusyu’.
Rasulullah SAW, pernah bertanya mengenai manusia yang paling utama. Maka Beliau menjawab:
مؤمن مجاهد بنفسه وما له فى سبيل الله قال ثم من قال رجل معتزل فى شعب من الشعاب يعبد ربه. متفق عليه

Artinya   : “Orang mukimin yang berjuang dengan jiwa raga dan hartanya di dalam sabilillah. Sahabat bertanya: “Kemudian siapa?” Beliau bersabda: “Kemudian orang yang menyendiri di suatu dusun, yang beribadah kepada Tuhannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi orang yang dapat menunaikan tugas dan kewajibannya, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama makhluk-Nya. Maka dia berhak memohon kepada Allah akan bagian amalnya.
Artinya   : “Dia berhak mengharap rahmat-Nya. Dan Allah pasti membela haknya baik di dunia atau di akhirat”.


Allah berfirman:
اعو بالله من الشيطان الرجيم
$¨Br&ur šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOÎgÏjùuqãsù öNèduqã_é& 3 ª!$#ur Ÿw =ÅsムtûüÏHÍ>»©à9$#  
Artinya   : Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS. Ali-Imran: 57)

Semoga kita umat Islam dihindarkan dari sifat mementingkan diri sendiri dan dijauhkan dari perbuatan mungkar, dimana hal itu akan melanda di kalangan umat manusia yang semakin hari semakin jauh dari hidayat Allah. Isyarat Rasulullah SAW, itu pasti benar, sehingga jauh-jauh sebelum itu terjadi kita sudah membangun persiapan mental dengan memperkuat keteguhan iman dari berbagai godaan yang datang bertubi-tubi dari sekeliling kita, bahkan berbuat seperti itu kita bukan hanya dapat bertahan menyelamatkan diri sendiri, harus dapat lebih tegas menunaikan tugas memberantas kemungkinan.






2 komentar: